Showing posts with label NRGlab. Show all posts
Showing posts with label NRGlab. Show all posts

Sunday, March 23, 2014

Masa Depan Bahan Bakar Fosil

Beberapa tahun yang lalu teknologi pengumpulan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage – CCS) menjadi salah satu harapan baru dari industri pengumpulan bahan bakar fosil. Tujuannya secara sederhana dapat dipahami dari nama teknologi ini, yaitu mengumpulkan karbon yang dilepaskan oleh pabrik-pabrik penghasil polusi dan menyimpannya di dalam bebatuan di bawah tanah. Meski menjadi pusat perbincangan pada konferensi perubahan iklim di Kopenhagen pada tahun 2009, kepopuleran CCS telah menurun selama  beberapa tahun. Hal ini diakibatkan oleh kesibukan dunia untuk mencari energi yang dapat diperbarui sebagai pengganti bahan bakar fosil. Apalagi belakangan dunia juga terobsesi dengan jenis baru dari bahan bakar fosil yang lebih sulit diekstrak seperti, bitumen dan gas alam dari proses rekah hidrolik (fracking). Namun, sepertinya CCS akan kembali diperbincangkan. Sebuah laporan di The Guardian baru-baru ini menyatakan bahwa industri CCS di Inggris saja diperkirakan bernilai sekitar 35 milyar poundsterling pada tahun 2030. Bayangkan nilainya di negara seperti Amerika Serikat, China, dan negara-negara lain dengan tingkat emisi yang terus berkembang seperti Jerman, Jepang, Kanada, dan Australia.

Awalnya, CCS memang terlihat seperti ide yang bagus. Penalarannya, jika teknologi untuk mengumpulkan dan menyimpan emisi di tempat yang aman dan jauh dari atmosfer bumi yang telah rusak karena emisi karbon memang ada, mengapa tidak? Apalagi dunia tidak mungkin serta merta beralih dari perekonomian yang bergantung pada bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan, karena itulah untuk sementara waktu kita harus melakukan sesuatu, bukan? Sayangnya, ada beberapa masalah dengan solusi ini, baik dari sisi praktis maupun teoritis. Pertama dari sisi praktis. CCS sebenarnya hanya mengubur emisi sehingga tidak tampak,  namun sesungguhnya tidak menghilangkan emisi tersebut. Jika ada bencana alam seperti gempa bumi atau penggalian dilakukan di lokasi, hal ini bisa mengakibatkan emisi yang telah dikubur tadi secara tidak sengaja terlepas lagi ke atmosfer dan manfaat awal yang dihasilkan CCS menjadi sia-sia.

Namun sesungguhnya problem terbesarnya adalah secara teoritis. CCS memberi kita pola pikir yang salah dalam menangani masalah di abad yang akan datang. CCS tidak akan menjadi solusi sementara saat dunia berupaya beralih dari perekonomian yang bergantung pada bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Sebaliknya CCS seolah menjadi batu loncatan untuk menutupi keengganan sistem yang ada untuk beralih ke energi terbarukan. Saat emisi karbon terkubur di bawah tanah, para politisi akan mengaku telah menyelesaikan masalah dan tak lagi berupaya untuk menemukan teknologi baru yang lebih efisien dan terbarukan. Suatu kondisi yang amat menguntungkan bagi sumber dana para politikus yang merupakan pemain di industri bahan bakar fosil.

Industri bahan bakar fosil akan terus diistimewakan sementara isu-isu menyangkut pengumpulan bahan bakar akan diabaikan. Misalnya, kerusakan yang terjadi karena proses rekah hidrolik (fracking); dampak pengembangan bitumen di lokasi penduduk asli Kanada (Canadian First Nations); masalah yang masih akan muncul berkenaan dengan teori peak oil; perang yang berkelanjutan di Timur Tengah untuk menguasai sumber minyak. Semua ini mungkin bisa diabaikan jika CCS dapat membuat minyak, gas, dan batu bara terlihat sebagai ‘energi hijau’. Ini sungguh memalukan. Bahan bakar fosil adalah zat yang paling menghancurkan yang ada di bumi dewasa ini. Maka amatlah penting agar teknologi yang memungkinkan efisiensi serta alternatif yang di kembangkan di NRGLab tidak diabaikan hanya karena status quo ekonomi saat ini yang ingin terus dipertahankan.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 16.02.14: http://anashell.blogspot.com/2014/02/capturing-future-for-fossil-fuels.html

[ bakar fosil, carbon capture and storage, CCS, energi yang dapat diperbarui, NRGlab, teknologi pengumpulan dan penyimpanan karbon, the guardian ]

Tuesday, March 11, 2014

Memerangi Perdagangan Senjata Tanpa Kekerasan

Saat menulis artikel ini, saya mendengar berita tentang sidang pengadilan yang berlangsung selama dua hari terakhir di daerah West Midlands, Inggris. Tahun lalu, lima aktivis memblokir jalan masuk utama ke Excel Docklands di London saat perhelatan pameran dua tahunan dari Peralatan Keamanan dan Persenjataan Internasional (Defence Security Equipment International - DSEI) dilangsungkan.  Para aktivis yang adalah penganut kristiani ini (salah satunya adalah Pendeta), selama aksi protes tanpa kekerasan mereka hanya berlutut sambil berdoa dan menyanyikan himne.  Sementara itu di lokasi pameran DSEI ada ratusan perusahaan yang berlomba-lomba untuk menjual senjata, bahan peledak, dan kendaraan lapis baja kepada banyak perwakilan pemerintah yang menghadiri pameran tersebut. Perbedaan antara kedua kelompok ini amat mencolok. Sayangnya para aktivislah yang kalah dalam pertarungan mereka yang tanpa kekerasan dengan pemerintah, dan mereka ditahan atas dasar pelanggaran karena masuk tanpa izin.



Hari ini, hakim pengadilan Stafford telah memutuskan bahwa para aktivis tidak bersalah.   Memang, kebebasan mereka tampaknya diperoleh karena kesalahan teknis di pihak kepolisian. Instruksi polisi saat memerintahkan agar para aktivis untuk pergi tidak jelas atau kurang terperinci sehingga mereka tidak bisa bertindak sesuai dengan perintah tersebut. Namun, ini tetap suatu kemenangan penting. Para aktivis telah diperbolehkan untuk menyampaikan argumen tentang legalitas taktik mereka di hadapan pengadilan hukum. Seperti biasa, pihak kepolisian terlihat jelas bertindak amat licik atau bodoh. Di NRGLab dan Ana Shell Fund, kami memuji kelima aktivis karena telah memperjuangkan apa yang mereka percayai meski adanya ancaman tiga bulan penjara.

Yang menarik dari pengadilan ini adalah standar ganda serta kemunafikan di Inggris Raya, yang katanya, adalah negara yang menjunjung "kebebasan dan keadilan".  Salah satu argumen yang digunakan oleh pembela berkisar pada insiden di pameran DSEI tahun 2013 karena ada dua perusahaan yang dikeluarkan dari pameran. Hal itu terjadi karena kedua perusahaan tersebut mempromosikan penjualan senjata yang dianggap ilegal dalam hukum Inggris. Magforce Internasional dari Prancis serta Tianjin Myway dari Cina dikeluarkan dari DSEI karena menjual proyektil listrik pengejut, tongkat pengejut, dan borgol kaki dengan pemberat. DSEI baru mengambil tindakan setelah Caroline Lucas, seorang anggota parlemen mengajukan pertanyaan ke parlemen sehubungan dengan adanya desas-desus akan penjualan senjata tersebut di pameran.

Sayangnya, DSEI bersikap biasa-biasa saja sehubungan dengan aksi ilegal dari kedua perusahaan dan mereka yang terlibat dalam pameran senjata tersebut juga tidak ada yang didakwa. Padahal kejahatan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang menjual tongkat pengejut dan rudal kejut jauh lebih besar dari pada kelima orang yang dengan tenang berlutut di jalan, namun justru kelima orang inilah yang malah didakwa oleh negara dan kepolisian. Kebebasan mereka pun hanya terjadi karena kesalahan teknis. Jika kepolisian melakukan tugas mereka dengan baik, mungkin kelima aktivis inilah yang akan berada di penjara malam ini sementara Magforce dan Myway dengan bebas melanjutkan bisnis mereka – bisnis yang didasarkan pada penindasan dan kekerasan terhadap mereka yang direbut haknya dan miskin.

Meski kisah ini berlokasi di Inggris, apa yang terjadi tidak hanya terjadi di Inggris. Prioritas negara amat jelas.  Jika Anda berupaya membela yang lemah, yang tidak punya apa-apa, yang rumahnya hancur karena rudal, yang kehidupannya direnggut oleh pistol, dan yang kebebasannya dibelenggu dengan borgol kaki dengan pemberat, Anda kemungkinan besar adalah penjahat. Jika Anda berkontribusi pada situasi di atas dengan membuat borgol kaki, rudal, pistol dan senjata penyiksa - hal itu tidak apa-apa, Anda bebas melanjutkan bisnis tersebut asalkan Anda mendatangkan keuntungan bagi para politikus dan pemangku kepentingan. Aktivis yang melakukan protes tanpa kekerasan adalah kelompok berbahaya sementara perusahaan yang keuntungannya berasal dari kekerasan adalah warga negara teladan. Ideologi terbalik ini dianut dalam kebudayaan neoliberal global dewasa ini. Kita semua hendaknya meniru kelima aktivis di atas dan bertindak menentang hal ini.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 25.02.14: http://anashell.blogspot.com/2014/02/fighting-arms-trade-with-non-violence.html


Excel Docklands di London, Peralatan Keamanan dan Persenjataan Internasional, Defence Security Equipment International, DSEI, hakim pengadilan Stafford, NRGLab, Ana Shell Fund, Caroline Lucas





Tuesday, March 4, 2014

捕获化石燃料的未来

在采掘和化石燃料工业领域,碳收集及储存(CCS)技术在几年前给人们带来了极大的希望。其目的非常简单,而且在它的名称中已经得到了很好的体现——收集其他会造成污染的发电厂释放的碳,将其储存在多孔岩地表之下。尽管早在2009年举行的哥本哈根联合国气候变化大会上,人们就围绕CCS进行了诸多讨论,但是,CCS依然被冷藏了好几年——最开始是因为,当时全世界都在尽量使用可再生能源,而不是化石燃料,而最近,则是因为人们开始痴迷于更难的化石燃料采掘新形式,比如石油砂和压裂天然气。不过,CCS可能将重回轨道——英国《卫报》最近发表的一篇报道称,到2030年,仅算英国的CCS产业,其价值就将高达350亿英镑。由此我们可以推断出,在美国和中国等面积更大的国家,以及拥有类似碳排放水平、或者碳排放水平正在增长的国家,如德国、日本、加拿大和澳大利亚,所涉及到的金额绝对是天文数字。

乍一看,CCS的确是个相当不错的主意。如果我们有了捕捉碳排放并将其储存在安全之所的技术,让它远离大气,阻止其破坏大气,为什么不去做呢?归根结底,是因为我们不能立即从化石燃料完全转向可再生能源经济,因此,我们不得不在此期间做些事情,应对当前的问题,对吧?不幸的是,一系列问题也随之而来——包括实际操作的问题和理论上的问题。在实际操作方面, CCS并没有真正地消除碳排放,而只是把它们埋了起来——眼不见,心不烦。一次未预见到的泄漏、地震等自然灾害、因某种原因人们掘开了土地——任何一件事都能轻易地让碳重回大气,进而彻底抹去CCS在短时间内可能提供的任何益处。

但更重要的可能还是理论上的问题,CCS以自身错误的思维方式为基础,向我们提供的解决未来世纪所面临问题的方式。从本质上来说,CCS不仅仅是一种在我们向可再生能源经济转变期间,解决因化石燃料而起、不可避免的问题的方式。CCS是现有化石燃料体系的支柱,目的在于避免人们转向可再生能源。一旦碳被埋藏在底下,政客们就将宣称,问题已得到解决,因此,也就没有必要再去帮助开发新的高效能源或可再生能源技术了——当然,这样也就帮助了他们在化石燃料产业的朋友和投资人。

化石燃料产业将继续享受特权,而与燃料采掘相关的其他问题都将被忽略。压裂施工所在社区面临的破坏;石油砂开发对加拿大第一民族造成的影响;石油顶峰将带来的问题;以掠夺资源为名在中东持续进行的战争——所有这些都将被推在一边,在持续盈利的名义下被忽略,只要CCS能让我们在表面上将石油、天然气和煤变得环保这将是极大的耻辱——时至今日,化石燃料可能是地球上最具破坏力的物质。在此情况下,至关重要的是,确保我们在NRGLab为开发高效的替代能源所做的工作,不会因维持现有有害的经济现状而被人们忽略。


从英文版翻而来。
原文于216, http://anashell.blogspot.com/2014/02/capturing-future-for-fossil-fuels.html

采掘工业领域, 化石燃料工业领域, 碳收集及储存, CCS, 合国气候变化大会, nrglab ]

Sunday, March 2, 2014

Rekah Hidrolik (fracking) - Jalan Menuju Kehancuran

Laporan terbaru dari AS mengatakan bahwa kontaminasi air akibat teknik pengeboran energi model baru yang dikenal dengan nama 'rekah hidrolik' atau fracking mungkin sudah biasa terjadi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Ada laporan pengaduan mengenai kontaminasi air terjadi di Pennsylvania, West Virginia, Texas, dan Ohio.  Negara bagian yang mempunyai laporan pengaduan paling mendetail yaitu Texas (hal ini mungkin mengejutkan, mengingat citra Pennysilvania yang jauh lebih liberal), mempunyai lebih dari 2.000 laporan penganduan tentang sumur-sumur minyak dan gas, meskipun belum ada kasus kontaminasi air yang telah dikonfirmasi.  Sedangkan Pennsylvania mencatat lebih dari 100 kasus kontaminasi air yang telah terkonfirmasi yang berasal dari industri minyak dan gas, termasuk dari sumur-sumur rekah hidrolik.

Yang pertama kali membuat kesadaran masyarakat awam tentang bahaya fracking atau rekah hidrolik adalah film dokumenter Gasland, yang memperlihatkan bahwa orang dapat menyetel keran air mereka menjadi api hanya dengan menyalakan pemantik rokok saja.  Kegiatan rekah hidrolik itu artinya memompa ratusan ribu galon air dan unsur-unsur kimiawi ke permukaan bumi sebagai upaya untuk memutus dan membebaskan gas alam yang terperangkap di dalam batuan serpih, sehingga rekah hidrolik ini mempunyai risiko bawaan, yaitu terjadinya kontaminasi silang dengan air tanah di lokasi sekitarnya - dan komposisi bahan-bahan kimia yang sebenarnya dipakai dalam cairan rekah hidrolik ini tetap menjadi rahasia yang ditutup rapat.

Jadi, apakah temuan ini akan menghentikan, atau paling tidak memperlambat ledakan kegiatan rekah hidrolik yang telah menyebar di AS selama beberapa tahun belakangan ini, dan yang baru saja dimulai di negara lain seperti Inggris? Meskipun ada beberapa kasus pemilik rumah yang pasokan airnya jelas-jelas terkontaminasi mendapatkan kompensasi besar, namun dengan meningkatnya skala kegiatan operasional rekah hidrolik ini, sepertinya tidak mungkin ada perusahaan energi yang akan kolaps. Karena rekah hidrolik memberikan akses ke cadangan gas alam onshore yang tetap murah, sehingga memungkinkan arus ekonomi bahan bakar fosil terus berlanjut - peluang seperti ini tentu saja tidak mungkin dilewatkan begitu saja oleh pemerintah dan dunia bisnis, karena beralih ke ekonomi energi ramah lingkungan yang berdasarkan sumber energi terbarukan hanya akan menimbulkan ancaman bagi mereka yang mendapatkan kekuasaan dan keuntungan dari status quo.

Selain itu, kemungkinan mayoritas sumur-sumur rekah hidrolik akan dibor di daerah-daerah pedesaan dan tempat bermukim para warga kelas pekerja di pinggiran kota.  Sudah barang tentu mayoritas penduduk yang akan terkena dampak dari infrastruktur ini adalah mereka yang mempunyai sebidang tanah kecil, sedikit koneksi, dan pada dasarnya tidak mampu berbuat apa-apa.  Para pemilik tanah yang kaya mempunyai uang mereka untuk mempertahankan diri dari sumur-sumur rekah hidrolik, sementara si miskin harus rela melihat lahan dan pemandangan mereka dihancurkan, kesehatan mereka direnggut, semua atas nama keuntungan perusahaan.

Dorongan terus-menerus untuk mendapatkan bahan bakar fosil tentu saja merupakan kebodohan terbesar dalam era kita.  Ada begitu banyak pontensi alternatif energi lainnya di luar sana - bahkan beberapa di antaranya dikembangkan oleh NRGLab - yang seharusnya mendapatkan dukungan pemerintah dan dana publik yang jauh lebih baik dibandingkan  yang diterima oleh industri energy seperti rekah hidrolik.  Melalui penggunaan teknologi yang bijaksana, kita bisa mengurangi tagihan energi bulanan kita, mengangkat orang keluar dari jurang kemiskinan energi, dan melindungi lingkungan kita - daripada mengontaminasikan air kita dan menghancurkan kesehatan demi mengejar beberapa tahun yang dimiliki dari pilihan bahan bakar fosil.  Mudah-mudahan kesadaran publik akan bahaya rekah hidrolok akan menjadi langkah awal perubahan nyata dalam beberapa tahun mendatang.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 23.01.14: 
http://anashell.blogspot.com/2014/01/fracking-our-way-to-disaster.html

Rekah Hidrolik, pengeboran energi, sumur-sumur minyak, kontaminasi air, film dokumenter Gasland, pasokan airnya, gas alam onshore, NRGLab ]

Sunday, February 23, 2014

化学谷?还是死亡谷?

在过去的两个月,加拿大和美国庆祝了感恩节和哥伦布日的到来。一直以来,这两个节日都被用于推动对北美殖民进行不加批判的叙述。但是,近几年,人们开始借此类机会,用稍微更具怀疑性的态度来思考相关情况,并承认要创立这些国家,就有必要拿走印第安人和第一民族(加拿大原住民)的土地。

然而,往往较少为人所研究的是,直到今天,这种掠夺仍以各种方式在继续,并且已经随着我们整个的全球化社会体制传播到了世界各地。我们的经济体制每天都在从几乎一无所有的人手上夺走资源,然后将它们重新分配给已经拥有很多的人——通过税收、监狱、薪水少得可怜的工作、企业补贴等方式。绝大多数的民众和国家正在失去资源,与此同时,只有很少一部分精英赚得盆满钵满。

这种情况给某些群体带来的不利影响尤为严重——在新闻报道中,美国黑人等少数族裔被关进监狱的可能性要大得多;发展中国家的妇女更可能在血汗工厂和电子工厂中工作,只为赚取每小时几毛钱的薪水。然而,承受着最大痛苦的仍然是该体制最初的牺牲者,即美国的印第安人和加拿大的第一民族。

最近,当我看到加拿大安大略省南部被称为“化学谷”的报道时,这一事实攫住了我的注意力。这是一处工业聚居带,以萨尼亚镇为中心,紧靠美国底特律北部的边境。萨尼亚镇周围分布着六十多家石油化工厂和炼油厂,我们可以毫无意外地得知当地的环境是有毒的。在该镇的中心呢?那是第一民族的专用地。有一片第一民族的墓地就紧靠着一家化工厂,死者安息在一小片树林中,而在树林的周围,便是北美洲的定居者在夺走该区土地后,对土地加以利用的部分情况。

他们所遭受的不仅仅是土地被夺走、开发、污染,同时受到损害的还有他们的健康和在经济方面的机会。该区的出生率变得越来越奇怪,新生儿中67%都是女孩,只有33%是男孩。显而易见,这种异常高的性别比例将对未来的社区关系产生影响。然而,该区的第一民
族无力改变现状,只得屈从于命运。当问及他们所面临的情况时,一位居民说道“每天都会看到这些设施,这不是什么大不了的事儿,我们已经非常习惯被虐待了……每天都去思考这些实在是太难了”。

显然,这种情况涉及到了环境的不公正,为了现代资本主义社会的利益,加拿大原住民的土地在贬值、退化、被破坏。第一民族已经失去了他们的土地、生计、自力更生的能力,甚至于还失去了他们的未来。这一切都是为了什么呢?为了一个牺牲多数人、让少数人获益的工业消费社会。然而,在NRGLab Ana Shell Fund,我们希望看到截然不同的情况——我们希望能看到环境公正的实现,各群体的权利都能得到同样的尊重。我们的目标是找到创新的解决方案,解决这类情况抛出的问题——如果您有能力、有热情助我们一臂之力,就请赶快联系我们吧。


从英文版翻而来。
原文于 18, http://anashell.blogspot.com/2014/01/chemical-valley-or-death-valley.html

[ 化学谷, 死亡谷, 感恩节, 哥伦布日, 第一民族, NRGLab, Ana Shell Fund, Ana Shell, 经济体制 ]

Thursday, February 13, 2014

水力压裂:通往灾难之路

美国最近的报道表明,被称为“水力压裂”的新能源技术造成的水污染可能比人们之前想象的更为普遍。夕法尼州、西弗吉尼州、得克斯州和俄亥俄州均有与污染相关的投诉。德克萨斯州对投诉进行了最为详尽的报道(考虑到夕法尼州更自由的景象,这可能会让德克萨斯州自己也大吃一惊),该州收到了2,000多份对石油和天然气井提出的投诉,虽然至今为止还没有水污染事例得到证实。但是,在夕法尼州,已经记录了100多起因石油和天然气业造成的水污染事例,包括压裂井。

当然,最早将压裂(或者使用其专有名称水力压裂)带进主流大众意识中的就是纪录片Gasland(《天然气之国》)了,该片向我们展示了屋主用普通打火机点燃家中自来水的景象。因为压裂作业要把数十万加仑的水和化学品泵入地下,以此压裂土地,释放其中的天然气。它给当地地下水带来了交叉污染的内在风险——同时,作为压裂液使用的化学品的试剂成分也始终是该行业绝口不提的秘密。                 

在过去几年里,压裂作业已蔓延至全美国,最近还开始扎根英国等其他国家。在此情况下,这些发现是否能阻止,或者至少减缓这股压裂热潮呢?一些屋主因无可争议的供水中断而获得了大量赔偿,压裂作业也与之成比例地增长,看来能源公司将不可能认输了。从根本上来说,压裂作业让人们有机会持续使用便宜的陆上天然气储备,同时防止目前的化石燃料经济衰退——企业和政府将不会错过这类机会,因为转变成基于可再生能源、更环保的能源经济,受到威胁的将只会是那些从现状中获取权力和利益的人。

除此之外,似乎大部分压裂井都将设在乡村及工薪阶级所处的城镇郊区。此类基础设施将会影响到的大部分人都只有很少的土地和关系,基本上是对此情况无能为力的人。富有的土地所有者将用他们的金钱来保护自己,不受压裂井的影响,而留给穷人将是,土地被毁,风景被破坏,他们的健康也以企业利润之名被夺走。


可以肯定的是,持续追求化石燃料是我们的时代最大的愚蠢。我们有那么多潜在的替代品——我们正在NRGLab探究其中部分选择——与目前接收公共基金和政府支持的压裂作业等行业相比,它们都将是更好的资助对象。明智地使用技术能降低家庭能源账单,让人们摆脱能源不足的困境,保护我们的自然环境——而不是在区区数年内轻松地选择化石燃料,任其污染水源,摧毁我们的健康。希望公众对压裂作业危险的认识,将成为未来几年内实现真正改变的第一步。

从英文版翻而来。
原文于 123, http://anashell.blogspot.com/2014/01/fracking-our-way-to-disaster.html
水力压裂, 油和天然气井, 新能源技, 水污, nrglab, Ana Shell Fund, Gasland ]

Monday, January 27, 2014

Energi Indonesia

Pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun
Saya terbang ke Jakarta pada tanggal 14 Januari karena mendapat kabar bahwa Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Bapak Djauhari berada di Indonesia.  Bapak duta besar mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat dirinya disibukkan dengan berbagai kegiatan dan keramahtamahan.  Beliau telah mendukung sejumlah proyek yang berpotensi membantu mengembangkan berbagai industri di Indonesia, dan selama pertemuan dua kali dengan beliau, kami membahas potensi besar untuk energi ramah lingkungan di Indonesia.  Indonesia dikaruniai cahaya matahari yang melimpah dan kelembapan yang tinggi - kondisi yang sempurna untuk perkembangbiakan beraneka ragam tumbuhan setiap tahunnya - dan bapak duta besar telah memberi tanda akan ketertarikan beliau pada metode yang ada untuk mengonversi tumbuh-tumbuhan (biomasa) menjadi energi listrik yang hemat biaya. 

Pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun: Bapak Djauhari, Ana Shell, Dede Apriadi (Pemimpin redaksi, PT NET Mediatama Indonesia)
Kenyataannya adalah teknologi gasifikasi biomasa yang ada saat ini untuk menghasilkan listrik tidak menguntungkan secara ekonomi.  Saya telah menjelaskan hal ini dalam publikasi saya sebelumnya. Saat ini, kompetisi antara bahan-bahan mentah murah seperti minyak mentah dan gas itu sia-sia.  Namun, gasifikasi biomasa dapat bersaing selayaknya dengan minyak mentah dan gas apabila memenuhi dua syarat berikut ini.  Syarat pertama, adanya turbin gas yang murah (sebagai bagian dari sistem gasifikasi), dengan harga yang tidak lebih dari US$250 per 1 kW/jam kapasitas.  Turbin seperti ini akan menghasilkan listrik murah untuk seluruh fasilitas gasifikasi (dengan demikian turbin ini menjadi turbin mandiri), dan juga menghasilkan listrik hemat biaya serta listrik tambahan untuk dikonsumsi pasar.  Misalnya: biaya 10 MW/jam turbin gas di pasaran saat ini adalah US$10 juta, yang menghasilkan listrik dengan biaya US$0,18. Idealnya, biaya turbin gas tidak bisa lebih tinggi dari US$2,5 juta sehingga dapat menghasilkan listrik dengan biaya US$ 0,06.

Syarat kedua adalah turbin baru harus mempunyai efisiensi yang tidak kurang dari 60%. Jenis turbin gas ini (Eco-SV turbine) sedang dikembangkan oleh perusahaan Singapura, NRGLab Pte Ltd., dengan pendanaan yang berasal dari Ana Shell Fund.

Pertemuan dengan PT Medco Power Indonesia
Saya bertemu dengan tim dari PT MedcoEnergy pada tanggal 15 Januari.  Topik utama diskusi kami adalah kemungkinan untuk memulai kerja sama bisnis untuk pasar lokal Indonesia dan pasar energi global. 
Di Indonesia, listrik yang diproduksi dari gasifikasi biomasa bisa menjadi jenis produksi utama energi dalam waktu dekat.  Harga bambu, limbah sawit, atau sekam padi per ton setara dengan harga 180 kg LNG (yaitu US$70) atau 1 ton batu bara (US$50). Hal ini berarti bahwa jumlah listrik yang sama, yaitu 1,5MW/jam, dihasilkan dengan membakar 180 kg LNG, 1 ton batu bara, atau 1 ton limbah sawit, sekam padi, atau bambu.  
Bagaimanapun, untuk Indonesia akan lebih menguntungkan dengan membakar biomasa, karena jenis bahan bakar ini adalah sumber energi terbarukan dan dua kali lebih murah daripada minyak mentah.  Apabila disetujui, maka konsep ini memungkinkan Pemerintah Indonesia untuk mengekspor minyak mentah dan LNG, dan menarik mata uang asing.  Dengan harga limbah pertanian atau tumbuhan liar sebesar US$10 per ton, maka harga satu kW/jam listrik diperkirakan sebesar US$0,5-0,8.

Pertemuan dengan Medco Power
Saya berbicara selama satu jam dengan Bapak Soetrisnanto, Senior Advisor, dan Bapak Hernawan, Business Development Consultant, dan tim Medco tentang pemanfaatan energi yang dihasilkan dari gasifikasi biomasa.  Secara pribadi saya menyukai strategi yang diperkenalkan oleh Dewan MedcoEnergy untuk menjadi "perusahaan energi yang disukai" para investor, pemegang saham, mitra, karyawan, dan masyarakat.  Kami memutuskan untuk bekerja sama (dari pihak saya melalui NRGLab) pada proyek gasifikasi biomasa dan generator listrik, yang bisa sangat menguntungkan di pasar.   MedcoEnergi dan Pemerintah Indonesia telah mengumumkan niat mereka untuk mengurangi konsumsi minyak sebesar 25% dalam waktu lima tahun mendatang dengan mengenalkan proyek-proyek energi alternatif, termasuk pengembangan energi geotermal.  Pada tahun 2025, Jakarta berniat meningkatkan produksi energi alternatif sebesar 9 ribu megawatt, yang akan memungkinkan untuk menghemat 4 miliar barel minyak mentah selama kurun waktu tersebut.

Ana Shell di Jakarta

PT Sarana Multi Infrastruktur
Saya bertemu dengan pimpinan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) pada tanggal 16 Januari untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut terhadap proyek gasifikasi biomasa dengan menggunakan turbin gas NRGLab Pte. Ltd. Predir PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Ibu Emma Sri Martini dan timnya akan menyediakan solusi teknis bagi pembangunan infrastruktur, sehingga akan menjamin pertumbuhan proyek-proyek energi terbarukan secara nasional.
Kami juga membahas sebuah proposal untuk memanfaatkan 10 juta ton residu berat yang dikeluarkan dari kilang minyak Pertamina setiap tahunnya.  Dengan menerapkan teknologi Viscoil, 10 juta ton residu berat tersebut dapat diubah menjadi 6 juta ton bahan bakar disel, yang akan menghasilkan laba sekitar US$3 miliar.  Biaya modal untuk melengkapi kembali kilang minyak diperkirakan sebesar US$30 juta, dan proyek ini akan berlangsung selama 6 bulan. Sebagai perbandingan: biaya modal membangun 8 kilang pemecahan viskos (visbreaking) membutuhkan waktu tidak kurang dari 10 tahun dengan  biaya US$6 miliar. 

Pusat Investasi Pemerintah (PIP)
Saya juga bertemu dengan manajemen PIP yang dikepalai oleh Pak Siregar, beliau mendengarkan pemaparan dua proyek yang diajukan dan menujukkan peran potensial PIP dalam proyek-proyek tersebut.  Saya menyimpan harapan tinggi bahwa PIP akan menjadi katalis untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur dalam sektor-sektor strategis utama perekonomian Indonesia.  Kami telah sepakat untuk mengembangkan sebuah strategi untuk proyek tersebut bersama-sama, menyediakan penilaian untuk mengurangi risiko secara terperinci, dan berusaha membereskan aspek hukum agar dapat membuat kesepatakan investasi dengan PIP yang potensial.  Bapak Soritaon Siregar menunjuk dua staff ahlinya, Julia dan Puji, untuk bekerja dengan Ana Shell Fund dan langsung menyiapkan semua dokumentasi yang dperlukan (lihat foto di bawah ini).

Pertemuan dengan manajemen Pusat Investasi Pemerintah (PIP): Julia Rahmi, Ana Shell, Puji Sugia Harjiman

Sebagai catatan pribadi, saya ingin mengomentari tingkat keoptimisan penerapan energi geotermal di Indonesia.  Mahalnya biaya pemanfaatan energi dari "gunung berapi" tetap menjadi kendalanya: biaya pembangkit geotermal dua kali lebih mahal daripada PLT batu bara dengan kapasitas yang sama; terlebih lagi, pekerjaan ini membutuhkan riset selama bertahun-tahun dan mengembangkan desainnya.  Proyek gasifikasi biomasa NRGLab dua kali lebih murah dan lebih cepat; dan juga memanfaatkan material terbarukan sebagai bahan-bahannya yang tersedia di Indonesia.  Proyek kedua kami - memproduksi 6 juta ton disel dari residu berat kilang-kilang minyak Pertamina, dapat dilaksanakan dalam waktu satu tahun dengan investasi minimum.  Yang Mulia Bapak Duta Besar Djauhari Oratmangun telah mengidentifikasi kedua proyek ini sebagai awal dari kerja sama strategis jangka panjang kami. 

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 27 Januari: http://anashell.com/anashell/2014/01/27/energy-indonesia/
energi Indonesia, Duta Besar Indonesia, Bapak Djauhari Oratmangun, energi ramah lingkungan, energi listrik, gasifikasi biomasa, menghasilkan listrik, menguntungkan secara ekonomi, minyak mentah, ana shell media press, ana shell media, ana shell, ana shell fund, NRGLab, turbin, Eco-SV turbine, NRGLab Pte Ltd, Medco Power Indonesia, MedcoEnergy, pasar energi global, produksi energi, limbah sawit, sekam padi, sumber energi terbarukan, LNG, menarik mata uang asing, limbah pertanian, tumbuhan liar, Bapak Soetrisnanto, Bapak Hernawan, Pemerintah Indonesia, konsumsi minyak, energi geotermal, energi alternatif, Sarana Multi Infrastruktur, SMI, Persero, Ibu Emma Sri Martini, proyek-proyek energi, teknologi Viscoil, nettv, Pusat Investasi Pemerintah, PIP, Pak Siregar, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur,  Julia Rahmi, Puji Sugia Harjiman, residu berat kilang-kilang minyak Pertamina, strategis jangka panjang

Thursday, January 23, 2014

Fracking our way to disaster

Recent reports from the US have suggested that water contamination from the new energy technique known as ‘fracking’ might be more common than previously thought. There were complaints of contamination in Pennsylvania, West Virginia, Texas, and Ohio. Texas, the state with the most detailed reporting on complaints (which is itself perhaps surprising, considering Pennsylvania’s more liberal image), had over 2,000 complaints about oil and gas wells, although no cases of water contamination have yet been confirmed. In Pennsylvania, however, over 100 confirmed cases of water contamination from the oil and gas industry, including fracking wells, have been recorded.
Of course, one of the very first things that started to bring fracking, or hydraulic fracturing to use its proper name, into mainstream public consciousness was the documentary Gasland, which showed homeowners being able to set their tap water on fire using an ordinary cigarette lighter. Because fracking requires the pumping of hundreds of thousands of gallons of water and chemicals into the earth in an attempt to fracture it and release trapped natural gas, it provides an inherent risk of cross-contamination with local groundwater – and the actual composition of chemicals being used in fracking fluids often remains a closely-guarded industry secret.
So will these findings halt, or at least slow down, the fracking boom which has been spreading across the US over the past few years, and which has recently begun to take hold in other countries like the UK? While there are some cases of homeowners being heavily compensated for undisputed disruptions to their water supply, as fracking increases in scale it seems unlikely that energy companies will cave in. Ultimately, fracking provides the possibility of access to continued cheap, onshore natural gas deposits, allowing our current fossil fuel economy to continue unabated – that kind of opportunity is something that businesses and governments won’t pass up, as switching to a more environmentally friendly energy economy based on renewables will only pose a threat to those that make power and profit from the status quo.
In addition to this, it is likely that the majority of fracking wells will be drilled in rural areas and on the working class outskirts of towns. The majority of the people who will be affected by this infrastructure are those with little land, few connections, and essentially no power to do anything about it. Rich landowners will be able to use their money to defend themselves against fracking wells, while poor people will see their land destroyed, their views spoiled, and their health taken away from them in the name of corporate profits.
This continued drive for fossil fuels is surely the greatest folly of our time. There are so many potential alternatives out there – some of which we are exploring here at NRGLab – which would be much better recipients of the public funds and government support that industries like fracking are now receiving. Through judicious use of technology we could bring down household energy bills, lift people out of energy poverty, and protect our natural environment – rather than contaminating our water and destroying our health in pursuit of a few more years of the easy option of fossil fuels. Hopefully, public awareness of the dangers of fracking will be the first step towards seeing some real change over the next few years.
[ actual composition of chemicals, ana shell media, ana shell media press, corporate profits, cross-contamination with local groundwater, destroying health, documentary Gasland, energy economy, energy technique, environmentally friendly energy economy, fossil fuel economy, fossil fuels, fracking boom, fracking fluids, fracking wells, government support, household energy bills, hydraulic fracturing, industry secret, mainstream public consciousness, natural gas, natural gas deposits, nrglab, oil and gas industry, oil and gas wells, out of energy poverty, potential alternatives, protect natural environment, public funds, rich landowners, rural areas, tap water, water contamination, water supply, working class ]

Thursday, January 16, 2014

小家伙终于赶上了大恶霸Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)

俄国天然气发电厂Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)去年的利润下降了15%,同时,自从弗拉基米尔·普京总统将所有筹码都压在出口上之后,该公司的前景也变得不甚明朗。普京总统承诺将俄国变成“超级能源大国”,但这么一来,也在无意中让该国难以适应全球各地新兴能源市场的涌现。


在过去十年间,欧洲进口天然气的三分之一都来自俄国。保加利亚等国家则完全依赖于Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)的供给。在20062008以及2009年,为了教训推动克里姆林宫进行立法改革、过于野心勃勃的行政官员们,该公司中断向乌克兰、白俄罗斯、格鲁吉亚、摩尔多瓦地区提供服务,导致数百万人深受严冬的折磨 
更糟的是,Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)从里海地区采购天然气,之后加价25%出售给欧洲的邻居。为了保持此类利率,该公司CEO Alexey Miller 成功击败了由西方公司负责修建的替代管道计划。
我们可以把Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)想象成课间休息时,在学校操场上肆意妄为的恶霸,勒索孩子们的牛奶钱,因为他希望孩子们只从“他”的饮水器中取水,而每一口水的价值仅为其收取费用的四分之一。
这一据点削弱了欧盟能源立法的地位。比如说,第三次能源改革方案(Third Energy Package)意欲刺激欧洲内部能源市场。其中一项核心内容就是强制分离公司的供给和分配网络。这意味着控制了饮水器的一方,就不能再控制从中取水的人,或是取水的方式。
不过,在过去几年间,借助于下调的价格和新兴的能源生产商,消费者们也得以挣脱了Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)的束缚。他们的产品不再是全球消费者唯一的选择。这场比赛的后来者,土库曼斯坦、乌兹别克斯坦和哈萨克斯坦为中亚地区提供了经济实惠的替代选择,进而让欧洲消费者可以和Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)就价格点进行谈判。去年,该公司即接受了为保加利亚以20%的折扣提供为期10年的服务!
美国预期在来年向欧洲出口不明数量的液压天然气。对大多数北美和欧洲国家来说,天然气已经替代煤成为了他们的首选燃料,同时,页岩作业的数量也在增加,这让Gazprom(俄罗斯天然气工业股份公司)的前景一片黯然。
因为原油和煤都是过去时了。考虑到这些能源对环境的破坏,它们已经无法带领我们走进21世纪。NRGLab开发了一种将天然气转化为燃料的更有效的方式。虽然天然气有其缺陷,但是,却能针对欧洲目前的状况提供更为清洁的解决方案。了解更多关于NRGLab能源战略和即将开展的项目的信息,敬请访问 www.nrglab.asia




俄国天然气发电厂, Gazprom, 俄罗斯天然气工业股份公司, 去年的利润下降了15%,同时,超级能源大国, NRGLab的公司, Ana shell ]

Sunday, January 12, 2014

Belajar dari Pengalaman – Mahasiswa Turun ke Jalan

Masyarakat Inggris baru saja menyaksikan aksi demo mahasiswa, untuk kesekian kalinya sejak pemerintahan koalisi dimulai beberapa tahun silam. Aksi demo yang terakhir adalah untuk memprotes kolusi antara pihak otoritas universitas dan polisi untuk menghalangi demo mahasiswa yang terkadang bahkan menangkap para pemimpin aksi-aksi tersebut. Sejumlah universitas telah mengajukan permohonan, dan telah diberikan surat perintah dari pengadilan untuk menghentikan segala bentuk aksi protes di dalam kampus mereka selama enam bulan ke depan – pengkhianatan yang mengejutkan terhadap prinsip kebebasan berpendapat yang seharusnya justru dipertahankan oleh lembaga perguruan tinggi ini. 

Mahasiswa Inggris bukan satu-satunya yang memprotes kondisi mereka – ada juga pergerakan mahasiswa yang meluas di Propinsi Quebec, Kanada, setahun silam mengenai biaya pendidikan yang meningkat; dan dalam minggu terakhir kita telah melihat ketegangan di antara universitas-universitas di Mesir setelah polisi menembak seorang mahasiswa di Kairo. Semua bentuk protes ini memiliki konteks sendiri-sendiri, karena situasi di London dan Kairo sudah pasti jauh berbeda, namun semua menimbulkan pertanyaan tentang penyebab mahasiswa di seluruh dunia menjadi semakin aktif secara politis.

Salah satu alasan utama adalah mahasiswa, seiring dengan berjalannya waktu mereka harus memikirkan dunia secara mendalam, idealnya ditempatkan untuk menyaksikan kontrol sosial yang sedang terjadi di masyarakat saat ini. Dalam banyak peristiwa, universitas-universitas mereka memberikan contoh terbaik,  jurusan-jurusan yang dianggap kurang ‘berguna secara ekonomi’ ditutup, dan para pegawainya, mulai dari petugas kebersihan hingga dosen diberhentikan atau upah mereka tidak dibayarkan. Jelas terlihat sekarang ada banyak universitas di dunia ini yang hanya mementingkan keuntungan materi dan berkontribusi pada kelanjutan status quo ekonomi daripada keunggulan akademik.

Mungkin alasan yang jauh lebih penting adalah mahasiswa sekarang cukup pintar untuk melihat kecilnya kesempatan yang ditawarkan kepada mereka saat lulus nanti. Mereka diiming-imingi harapan bahwa jika mereka bekerja keras, mereka akan bisa sukses di manapun mereka berada. Namun dengan meningkatnya jarak antara si kaya dan si miskin dalam masyarakat, mereka bisa melihat bahwa sebagian besar dari mereka akan kalah dalam permainan kehidupan, sekeras apapun mereka bekerja. Kesuksesan dan kekayaan adalah “jatah” mahasiswa tertentu yang memiliki orangtua kaya, atau koneksi keluarga yang akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi yang hanya tinggal sedikit tersisa. Bagi sebagian besar mahasiswa lainnya, masa depan terlihat suram – pekerjaan dengan upah minimum di Starbucks, dan utang yang menumpuk. Kita sedang menciptakan masyarakat pemenang dan pecundang. 

Mahasiswa, sebagai pengecam yang berani menyuarakan keadaan ini dan juga sebagai kalangan yang paling mungkin merugi, sekarang menghadapi tekanan untuk menghentikan penyebaran pesan mereka. Penembakan di Kairo, ‘penahanan’ dan penangkapan di London – apa saja untuk menghentikan mereka menyampaikan pesan kepada orang-orang yang kehilangan mata pencaharian dan peluang di dalam masa sulit ini. Seharusnya kita melakukan yang terbaik untuk membantu menyebarkan semangat dan filosofi mahasiswa kepada lebih banyak orang lagi – kita membutuhkan masyarakat yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebutuhan akan pengetahuan, kreativitas dan keadilan sebagai prioritas utama; bukan masyarakat yang menempatkan keuntungan materi di atas segalanya, dan memperburuk jurang pemisah antara pemenang dan pecundang. 


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 30 Desember: http://anashell.com/anashell/2013/12/30/learning-hard-way-students-take-streets/
[Mahasiswa Turun ke Jalan, Masyarakat Inggris, aksi demo mahasiswa, Propinsi Quebec, penembakan di Kairo, penangkapan di London, student protest, nrglab, Ana shell]

Wednesday, January 8, 2014

Chemical Valley or Death Valley?

Over the last two months, Canada and the US have celebrated Thanksgiving and Columbus Day, both festivals that have traditionally been used to push an uncritical narrative on the colonization of North America. In recent years, however, people have started to use these occasions to think a bit more skeptically about the situation, and acknowledge that the founding of these countries necessitated the taking of Native American and First Nations (Native Canadian) land.
What tends to be less examined is that this taking continues today in a host of ways, and has spread around the world to incorporate our entire globalized societal system. Every day our economic system takes resources away from people who have little, and redistributes them to people who already have a lot – through taxes, prisons, badly-paid jobs, corporate subsidies, and so on. The vast majority of people and nations are losing, while a small elite is cashing in.
Certain groups suffer the effects of this even more than the rest of us – visible minorities, such as black people in America, are much more likely to be imprisoned; women in developing countries are more likely to be working in sweatshops and electronics factories for a few cents an hour. But perhaps no-one continues to suffer quite as badly as the original victims of this system, the Native Americans of the US and the First Nations of Canada.
This fact recently came to the front of my attention when reading about the so-called ‘chemical valley’ in Southern Ontario, Canada. This is a strip of industrial settlements centred around the town of Sarnia, just over the US border to the north of Detroit. Sarnia has over sixty petro-chemical plants and oil refineries based around it, and the environment is, unsurprisingly, toxic. And right in the middle of it? A First Nations reserve. There is a First Nations cemetery lodged up right next to a chemical plant, a small group of trees among which the dead can rest, surrounded by examples of what was done to the land taken from them by the settlers of North America.
It’s not just that their land has been taken from them, built on, and polluted. Their health has also been damaged, and with it, their economic chances. Birth rates in the area are increasingly strange, with 67% of new born babies being girls and only 33% being boys. This abnormally high gender ratio will obviously have an impact on community relations in the years to come. However, the First Nations in the area are powerless to change things and resigned to their fate. When asked about the situation, one resident stated “seeing those facilities every day, it’s not a big deal and we’re so used to being abused . . . it’s too hard to think about it every day”.
Clearly, this is a case of environmental injustice, with the land of Native Canadians devalued, degraded, and destroyed for the benefit of a modern capitalist society. The First Nations have lost their land, their livelihoods, their self-reliance, and perhaps even their future. And all for what? An industrial consumer society that really only benefits the few at the expense of the many. At NRGLab and the Ana Shell Fund, we want to see situations like this reversed – we want to see environmental justice achieved, and the rights of all groups respected equally. Our aim is to find innovative solutions to the problems that situations like these throw up – if you have the skills and enthusiasm to help, let us know.
[ chemical plant, Chemical Valley, chemical valley Southern Ontario, colonization of North America, Columbus Day,  Death Valley, electronics factories, environmental injustice,  First Nations land, incorporate system, nrglab ]

Wednesday, January 1, 2014

Ketimpangan Energi yang Membatasi Demokrasi

NRGLab (ww.nrglab.asia) didedikasikan untuk mengembangkan energi alternatif terbarukan untuk masa depan. Dengan mengenalkan listrik ke dunia ketiga dengan harga lebih terjangkau bagi semua orang, kita dapat mendemokrasikan energi dan informasi dengan cara yang tidak mungkin terpikirkan sebelumnya.  Tetapi untuk memahami hubungan antara energi, informasi, dan demokrasi yang kuno, terlebih dahulu kita perlu menelaah apa artinya menjadi 'demokratis'.



Biasanya, orang memikirkan demokrasi dalam pengertian sempit - semua orang mendapatkan hak suara yang sama untuk memilih pemimpin mereka berikutnya. Kalau begitu, ini sama saja dengan mundur ribuan tahun lalu ke zaman Yunani kuno. Seperti yang pernah dikatakan Winston Churchill, "Demokrasi memang mempunyai banyak kekurangan, tapi inilah yang terbaik dari bentuk pemerintahan yang buruk lainnya."

Aspek yang paling penting untuk mempertahankan demokrasi adalah para pemilih yang cerdas. Ketika memercayakan kebebasan memilih bagi rakyat, kita juga harus memercayakan mereka dengan kebenaran. Siapa yang membela persoalan apa? Masalah apa yang paling mendesak dan penting? Ke manakah arah dunia kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini memengaruhi para pemilih, para pemilih memengaruhi kebijakan, dan karena sifat politik global, tentu saja akan turut memengaruhi seluruh dunia. Dan ketika menyangkut kebijakan energi, pencairan gletser membuktikan bahwa tidak ada masalah yang lebih mendesak dari hal ini.
Kita semua bergantung pada energi untuk melakukan perjalanan pulang pergi bekerja setiap hari. Untuk memasak makanan kita.  Untuk memanaskan air mandiri di malam hari. Kestabilan ekonomi bergantung pada akses energi yang dapat diandalkan bagi bangsa tersebut.  Namun mayoritas sumber energi seperti batu bara, minyak, gas, dan uranium, yang jumlahnya terbatas dan hanya ditemukan di tempat tertentu, dikendalikan oleh segelintir konglomerat energi.

Lalu, di manakah letak nilai demokrasi di sini?
Bila kekuasaan dikonsolidasikan ke tangan beberapa gelintir orang saja, maka mayoritas menjadi budak kelompok minoritas ini. Telah lama kita dikondisikan untuk menginginkan bahan bakar fosil sehingga keinginan kita saat ini jauh melampaui kebutuhan kita. Dilema moral antara mengonsumsi ini versus tanggung jawab sosial membatasi demokrasi. Agar warga negara, CEO, dan politisi bebas untuk memilih arah yang terbaik bagi planet bumi, pertama-tama kita harus membebaskan diri dari konglomerasi penguasa energi.

Kita memiliki kemampuan untuk melewati puncak industri dari abad sebelumnya. Kita bisa beradaptasi dengan perubahan iklim melalui investasi pada energi bersih. Kita bisa menghancurkan pemikiran ekonomi kuno yang mengancam demokrasi bagi anak cucu kita dengan mematuhi ambang batas karbon.

Itu sebabnya NRGLab selalu memberitahukan perkembangan terbaru dalam bidang energi, bisnis, dan teknologi baru setiap hari dari seluruh dunia.  Kami ingin Anda tetap mendapatkan informasi terbaru.  Tetap mempunyai rasa ingin tahu. Tanpa membedakan tempat tinnggal dan latar belakangan Anda.  New York. Papua Nugini. Selandia Baru. NRGLab ingini memberikan Anda kebebasan memilih karena kita bekerja sama untuk menuju masa depan baru dan lebih baik.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 27.11: http://anashell.blogspot.com/2013/06/energy-imbalance-strangles-democracy.html 

Ketimpangan Energi, Membatasi Demokrasi, energi biomassa, energi NRGLab, Ana Shell NRGLab, Ana shell, NRGlab, Winston Churchill ]

Sunday, December 22, 2013

Akhir Kejayaan Gazprom

Masa depan Gazprom, Pembangkit Listrik Tenaga Gas Alam Rusia yang pada tahun lalu mengalami punurunan laba hingga 15%, nampak semakin tidak menentu sejak Presiden Rusia Vladimir Putin ‘kelelahan’ menangani ekspor luar negeri mereka. Presiden telah berjanji untuk mengubah Rusia menjadi negara “adidaya energi”, namun dalam kenyataannya, secara tak langsung telah menyebabkan Rusia tak dapat beradaptasi dengan adanya pasar energi baru di seluruh dunia.

Selama sepuluh tahun terakhir, sepertiga dari kebutuhan gas Eropa diimpor dari Rusia. Beberapa negara, seperti Bulgaria, bahkan hanya bergantung dari pasokan Gazprom. Jutaan orang menderita ketika Gazprom memutuskan layanannya kepada Ukraina, Belarusia, Gorgia, dan Moldova selama beberapa kali musim dingin yang mencekam di tahun 2006, 2008, dan berulang di tahun 2009, dengan alasan memberi pelajaran kepada para eksekutif yang terlalu ambisius memaksa Kremlin untuk memperbaiki legislatifnya.
Parahnya lagi, Gazprom membeli gas alam dari daerah Kaspia dan menjualnya kembali kepada negara-negara tetangganya di Eropa dengan menaikan harga sebesar 25%. Demi mempertahankan margin tersebut, CEO Alexey Miller telah berjuang (baca: menentang) namun akhirnya kalah, terhadap rencana pembangunan jalur pipa alternatif yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan barat.
Bayangkan Gazprom sebagai si tukang tindas saat jam istirahat, mengamuk di halaman halaman sekolah, membuat anak-anak lain ketakutan, mengambil uang jajan beli susu mereka, karena dia hanya ingin mereka minum dari kolam susu ‘miliknya’ saja, dengan harga dua puluh lima sen sekali isap.
Kelompok ini melemahkan undang-undang energi yang diwariskan oleh Uni Eropa. Sebagai contoh, Paket Energi Ketiga ditujukan untuk merangsang pasar energi di internal Eropa. Salah satu komponen utama dari paket tersebut memerlukan adanya pemutusan jaringan pasokan dan distribusi antar perusahaan. Artinya – jika kamu mengendalikan sumber mata air, kamu tidak bisa mengendalikan siapa yang minum, atau bagaimana caranya.
Namun, selama beberapa tahun terakhir, dengan munculnya produsen-produsen energi baru yang menawarkan harga lebih murah, telah memungkinkan para konsumen energi melepaskan diri dari ketergantungan mereka pada Gazprom.
Bahkan Amerika Serikat diperkirakan akan mengekspor gas alam cair dalam jumlah sangat besar ke Eropa  pada tahun mendatang ini. Penggunaan gas alam telah menjadi pilihan sebagian besar rakyat di Amerika Utara dan Uni Eropa sebagai bahan bakar pengganti batu bara. Dan dengan meningkatnya penggunaan gas dari batuan serpih, maka masa depan Gazprom semakin meredup.                                                   
Minyak mentah adalah komoditas berharga di masa lalu. Demikian juga dengan batu bara. Kedua sumber daya alam yang sangat tidak ramah lingkungan ini mengantarkan kita hingga ke abad 21. NRGLab telah mengembangkan sarana yang lebih efisien untuk mengubah gas alam menjadi bahan bakar. Gas alam, meskipun juga mempunyai bahaya tersembunyi, menawarkan solusi energi yang lebih bersih bagi keadaan Eropa saat ini. Untuk informasi selengkapnya mengenai strategi energi dan proyek-proyek NRGLab berikutnya, silakan kunjungi www.nrglab.asia



Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 9 Desember: http://anashell.blogspot.com/2013/12/the-future-of-russias-natural-gas-power.html

[ Gazprom, Pembangkit Listrik Tenaga Gas Alam, Vladimir Putin, adidaya energi, pasar energi baru, Alexey Miller, NRGlab, Proyek Gasifikasi NRGLab ]