Showing posts with label gasifikasi NRGLab. Show all posts
Showing posts with label gasifikasi NRGLab. Show all posts

Monday, January 27, 2014

Energi Indonesia

Pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun
Saya terbang ke Jakarta pada tanggal 14 Januari karena mendapat kabar bahwa Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Bapak Djauhari berada di Indonesia.  Bapak duta besar mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat dirinya disibukkan dengan berbagai kegiatan dan keramahtamahan.  Beliau telah mendukung sejumlah proyek yang berpotensi membantu mengembangkan berbagai industri di Indonesia, dan selama pertemuan dua kali dengan beliau, kami membahas potensi besar untuk energi ramah lingkungan di Indonesia.  Indonesia dikaruniai cahaya matahari yang melimpah dan kelembapan yang tinggi - kondisi yang sempurna untuk perkembangbiakan beraneka ragam tumbuhan setiap tahunnya - dan bapak duta besar telah memberi tanda akan ketertarikan beliau pada metode yang ada untuk mengonversi tumbuh-tumbuhan (biomasa) menjadi energi listrik yang hemat biaya. 

Pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun: Bapak Djauhari, Ana Shell, Dede Apriadi (Pemimpin redaksi, PT NET Mediatama Indonesia)
Kenyataannya adalah teknologi gasifikasi biomasa yang ada saat ini untuk menghasilkan listrik tidak menguntungkan secara ekonomi.  Saya telah menjelaskan hal ini dalam publikasi saya sebelumnya. Saat ini, kompetisi antara bahan-bahan mentah murah seperti minyak mentah dan gas itu sia-sia.  Namun, gasifikasi biomasa dapat bersaing selayaknya dengan minyak mentah dan gas apabila memenuhi dua syarat berikut ini.  Syarat pertama, adanya turbin gas yang murah (sebagai bagian dari sistem gasifikasi), dengan harga yang tidak lebih dari US$250 per 1 kW/jam kapasitas.  Turbin seperti ini akan menghasilkan listrik murah untuk seluruh fasilitas gasifikasi (dengan demikian turbin ini menjadi turbin mandiri), dan juga menghasilkan listrik hemat biaya serta listrik tambahan untuk dikonsumsi pasar.  Misalnya: biaya 10 MW/jam turbin gas di pasaran saat ini adalah US$10 juta, yang menghasilkan listrik dengan biaya US$0,18. Idealnya, biaya turbin gas tidak bisa lebih tinggi dari US$2,5 juta sehingga dapat menghasilkan listrik dengan biaya US$ 0,06.

Syarat kedua adalah turbin baru harus mempunyai efisiensi yang tidak kurang dari 60%. Jenis turbin gas ini (Eco-SV turbine) sedang dikembangkan oleh perusahaan Singapura, NRGLab Pte Ltd., dengan pendanaan yang berasal dari Ana Shell Fund.

Pertemuan dengan PT Medco Power Indonesia
Saya bertemu dengan tim dari PT MedcoEnergy pada tanggal 15 Januari.  Topik utama diskusi kami adalah kemungkinan untuk memulai kerja sama bisnis untuk pasar lokal Indonesia dan pasar energi global. 
Di Indonesia, listrik yang diproduksi dari gasifikasi biomasa bisa menjadi jenis produksi utama energi dalam waktu dekat.  Harga bambu, limbah sawit, atau sekam padi per ton setara dengan harga 180 kg LNG (yaitu US$70) atau 1 ton batu bara (US$50). Hal ini berarti bahwa jumlah listrik yang sama, yaitu 1,5MW/jam, dihasilkan dengan membakar 180 kg LNG, 1 ton batu bara, atau 1 ton limbah sawit, sekam padi, atau bambu.  
Bagaimanapun, untuk Indonesia akan lebih menguntungkan dengan membakar biomasa, karena jenis bahan bakar ini adalah sumber energi terbarukan dan dua kali lebih murah daripada minyak mentah.  Apabila disetujui, maka konsep ini memungkinkan Pemerintah Indonesia untuk mengekspor minyak mentah dan LNG, dan menarik mata uang asing.  Dengan harga limbah pertanian atau tumbuhan liar sebesar US$10 per ton, maka harga satu kW/jam listrik diperkirakan sebesar US$0,5-0,8.

Pertemuan dengan Medco Power
Saya berbicara selama satu jam dengan Bapak Soetrisnanto, Senior Advisor, dan Bapak Hernawan, Business Development Consultant, dan tim Medco tentang pemanfaatan energi yang dihasilkan dari gasifikasi biomasa.  Secara pribadi saya menyukai strategi yang diperkenalkan oleh Dewan MedcoEnergy untuk menjadi "perusahaan energi yang disukai" para investor, pemegang saham, mitra, karyawan, dan masyarakat.  Kami memutuskan untuk bekerja sama (dari pihak saya melalui NRGLab) pada proyek gasifikasi biomasa dan generator listrik, yang bisa sangat menguntungkan di pasar.   MedcoEnergi dan Pemerintah Indonesia telah mengumumkan niat mereka untuk mengurangi konsumsi minyak sebesar 25% dalam waktu lima tahun mendatang dengan mengenalkan proyek-proyek energi alternatif, termasuk pengembangan energi geotermal.  Pada tahun 2025, Jakarta berniat meningkatkan produksi energi alternatif sebesar 9 ribu megawatt, yang akan memungkinkan untuk menghemat 4 miliar barel minyak mentah selama kurun waktu tersebut.

Ana Shell di Jakarta

PT Sarana Multi Infrastruktur
Saya bertemu dengan pimpinan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) pada tanggal 16 Januari untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut terhadap proyek gasifikasi biomasa dengan menggunakan turbin gas NRGLab Pte. Ltd. Predir PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Ibu Emma Sri Martini dan timnya akan menyediakan solusi teknis bagi pembangunan infrastruktur, sehingga akan menjamin pertumbuhan proyek-proyek energi terbarukan secara nasional.
Kami juga membahas sebuah proposal untuk memanfaatkan 10 juta ton residu berat yang dikeluarkan dari kilang minyak Pertamina setiap tahunnya.  Dengan menerapkan teknologi Viscoil, 10 juta ton residu berat tersebut dapat diubah menjadi 6 juta ton bahan bakar disel, yang akan menghasilkan laba sekitar US$3 miliar.  Biaya modal untuk melengkapi kembali kilang minyak diperkirakan sebesar US$30 juta, dan proyek ini akan berlangsung selama 6 bulan. Sebagai perbandingan: biaya modal membangun 8 kilang pemecahan viskos (visbreaking) membutuhkan waktu tidak kurang dari 10 tahun dengan  biaya US$6 miliar. 

Pusat Investasi Pemerintah (PIP)
Saya juga bertemu dengan manajemen PIP yang dikepalai oleh Pak Siregar, beliau mendengarkan pemaparan dua proyek yang diajukan dan menujukkan peran potensial PIP dalam proyek-proyek tersebut.  Saya menyimpan harapan tinggi bahwa PIP akan menjadi katalis untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur dalam sektor-sektor strategis utama perekonomian Indonesia.  Kami telah sepakat untuk mengembangkan sebuah strategi untuk proyek tersebut bersama-sama, menyediakan penilaian untuk mengurangi risiko secara terperinci, dan berusaha membereskan aspek hukum agar dapat membuat kesepatakan investasi dengan PIP yang potensial.  Bapak Soritaon Siregar menunjuk dua staff ahlinya, Julia dan Puji, untuk bekerja dengan Ana Shell Fund dan langsung menyiapkan semua dokumentasi yang dperlukan (lihat foto di bawah ini).

Pertemuan dengan manajemen Pusat Investasi Pemerintah (PIP): Julia Rahmi, Ana Shell, Puji Sugia Harjiman

Sebagai catatan pribadi, saya ingin mengomentari tingkat keoptimisan penerapan energi geotermal di Indonesia.  Mahalnya biaya pemanfaatan energi dari "gunung berapi" tetap menjadi kendalanya: biaya pembangkit geotermal dua kali lebih mahal daripada PLT batu bara dengan kapasitas yang sama; terlebih lagi, pekerjaan ini membutuhkan riset selama bertahun-tahun dan mengembangkan desainnya.  Proyek gasifikasi biomasa NRGLab dua kali lebih murah dan lebih cepat; dan juga memanfaatkan material terbarukan sebagai bahan-bahannya yang tersedia di Indonesia.  Proyek kedua kami - memproduksi 6 juta ton disel dari residu berat kilang-kilang minyak Pertamina, dapat dilaksanakan dalam waktu satu tahun dengan investasi minimum.  Yang Mulia Bapak Duta Besar Djauhari Oratmangun telah mengidentifikasi kedua proyek ini sebagai awal dari kerja sama strategis jangka panjang kami. 

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 27 Januari: http://anashell.com/anashell/2014/01/27/energy-indonesia/
energi Indonesia, Duta Besar Indonesia, Bapak Djauhari Oratmangun, energi ramah lingkungan, energi listrik, gasifikasi biomasa, menghasilkan listrik, menguntungkan secara ekonomi, minyak mentah, ana shell media press, ana shell media, ana shell, ana shell fund, NRGLab, turbin, Eco-SV turbine, NRGLab Pte Ltd, Medco Power Indonesia, MedcoEnergy, pasar energi global, produksi energi, limbah sawit, sekam padi, sumber energi terbarukan, LNG, menarik mata uang asing, limbah pertanian, tumbuhan liar, Bapak Soetrisnanto, Bapak Hernawan, Pemerintah Indonesia, konsumsi minyak, energi geotermal, energi alternatif, Sarana Multi Infrastruktur, SMI, Persero, Ibu Emma Sri Martini, proyek-proyek energi, teknologi Viscoil, nettv, Pusat Investasi Pemerintah, PIP, Pak Siregar, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur,  Julia Rahmi, Puji Sugia Harjiman, residu berat kilang-kilang minyak Pertamina, strategis jangka panjang

Sunday, October 20, 2013

Trend Gasifikasi Biomassa

Energi biomassa diciptakan melalui pembakaran atau konversi biokimia materi organik untuk dipergunakan sebagai bahan bakar. Beberapa materi organik yang digunakan untuk energi biomassa termasuk kayu, serbuk gergaji, rumput, jagung, tebu, limbah pertanian, dan tanaman hidup lainnya. Ada banyak proses untuk mengubah biomassa menjadi energi.


Jika terdiri dari limbah, biomassa memiliki nilai tambah dalam mengubah sampah menjadi energi, jika dari bahan hasil pertanian, maka dapat memberikan keuntungan secara ekonomi kepada petani. Juga mungkin untuk menanam tanaman yang dikhususkan untuk aplikasi biomassa, akan tetapi, menggunakan limbah yang ada adalah cara paling hijau untuk produksi biomassa.

Bahan bakar minyak biomassa seperti etanol dapat menghasilkan sekitar lima kali lipat energi yang dipergunakan untuk perbuatannya, yang membuat cara ini terdengar lebih sebagai sumber energi ekonomis. Sisi negatifnya adalah semakin jauh tujuan bahan bakar dikirimkan, maka semakin kurang ekonomis dari segi pembiayaan. Dengan demikian, nilai utama dari proses energi biomassa adalah jika biomassa dipergunakan di tempat di mana biomassa diproduksi, seperti area pertanian dan komunitas di sekitarnya.

Para ahli sedang mencari solusi yang lebih efisien untuk penggunaan energi biomassa, karena enerrgi ini memberikan keuntungan lingkungan sekitar dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Transisi ke biomassa akan membantu dunia mengurangi produksi limbah dan emisi gas rumah kaca. Namun pada saat yang sama, produksi bahan bakar biomassa masih terbilang mahal karena merupakan terknologi yang relatif baru. Perbaikan metode penciptaan bahan bakar secara efisien dan dengan biaya yang lebih terjangkau masih dalam penelitian.


Proses gasifikasi terjadi dengan didukung temperatur tinggi dan pengendalian jumlah oksigen dan uap pada saat mengubah materi karbon seperti petrolium, batu bara, biomassa, and bahan bakar nabati menjadi hidrogen dan karbon monoksida. Proses konversi ini menghasilkan apa yang disebut dengan syngas dan merupakan produk biomassa yang lebih efisien dibandingkan proses pembakaran. Syngas dapat dibakar secara langsung, dipergunakan untuk menghasilkan metanol dan hidrogen dan bahkan dapat dikonversi lebih jauh menjadi bahan bakar sintetis.

Cara paling optimal menggunakan biomassa adalah melalui gasifikasi dengan mengikuti aktuasi di dalam turbin gas.

Di masa mendatang, penerapan yang tepat akan generator turbo harus menghasilkan industri ekonomi, yang mengumpulkan biomassa dalam jumlah besar (pabrik gula, pabrik penyulingan, pabrik pembuatan gula, dll).

Penggunaan biomassa memungkinkan penggunaan negara akan batu bara, gas, atau minyak untuk produksi listrik. Lebih dari itu, jumlah emisi karbon dioksida akan berkurang dua kali lipat.


Turbin gas NRGLab (dalam proses paten) menghasil energi listrik paling terjangkau di dunia dari metana, propana, butana, metanol dan turunannya, sama baiknya dengan syngas dengan harga yang cukup murah yaitu $0.02 USD per kW/h. Turbin NRGLab tidak hanya meningkatkan efisiensi konversi dibandingkan dengan turbin konvensional (sebesar 75%), juga lebih murah. Turbin 25MW oleh NRGLab berharga $15 juta USD, dibanding turbin yang sama yang tersedia di pasar saat ini yang harganya mencapai $40 juta USD. Dengan gasifikasi turbin NRGLab, harga jauh lebih murah setara dengan harga di mana biomassa dibakar tidak sebagai bahan bakar, tetapi sebagai penghasil listrik dengan tingkat keseimbangan yang positif.

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 7 Oktober: http://anashell.com/anashell/2013/10/07/biomass-gasification-trend/

gasifikasi biomassa, Proyek Gasifikasi NRGLab, gasifikasi NRGLab, NRGLab, energi biomassa, energi, energi NRGLab, Ana Shell NRGLab, Proses gasifikasi, Syngas, gasification Ana Shell, gasification nrglab, gasification project ]