Tuesday, February 18, 2014

Apakah Mereka yang Miskin adalah Penjahat yang Sebenarnya?

Kriminalisasi warga miskin merupakan salah satu aspek paling merusak dari masyarakat kapitalis modern yang semakin sering kita lihat saat ini. Kenyataan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, setidaknya terjadi juga pada masa revolusi industri. Berdasarkan argumentasi antara kaum kapitalis dan kaum buruh, serikat buruh dikembangkan sebagai cara para pekerja untuk memaksimalkan potensi mereka guna mendapatkan keuntungan.   Mereka diperlakukan sebagai sampah masyarakat, disebut sebagai komunis dan kerap kali diserang oleh polisi dan orang bayaran - bahkan hal ini masih berlangsung hingga saat ini, gerakan serikat pekerja di barat adalah bayangan suram keadaan seratus tahun silam. Di sisi lain, upaya-upaya kaum kapitalis untuk memaksimalkan potensi memperoleh keuntungan dengan cara mengurangi upah, meningkatkan jam kerja, dan mengabaikan peraturan-peraturan keselamatan kerja, hampir selalu mendapatkan dukungan pemerintah, baik secara implisit maupun eksplisit dengan cara meloloskan UU yang pro-perusahaan.

George Monbiot dalam kolomnya di koran The Guardian baru-baru ini kembali membahas sarana penindasan legal lain yang dapat segera digunakan oleh pemerintah terhadap warga miskin, yaitu IPNAs (Injunctions to Prevent Nuisance or Annoyance) atau perintah pengadilan untuk mencegah gangguan. Perintah pengadilan ini dapat dikenakan kepada siapa saja terhadap tindakan yang dianggap hakim dapat menyebabkan 'gangguan' terhadap orang lain.
 Mengulangi tindakan tersebut setelah dikeluarkannya surat perintah pengadilan dapat mengakibatkan hukuman penjara dua tahun, sekalipun tindakan tersebut biasanya tidak dianggap sebagai kejahatan. Seperti yang ditulis Monbiot, perintah pengadilan ini tidak akan digunakan untuk melawan mereka yang 'terhormat' yang membuat onar atau memblokir trotoar di depan bar minuman anggur atau gedung opera. Perintah pengadilan ini akan digunakan melawan para suporter sepak bola, demonstran, orang-orang muda yang dianggap berisik atau mengancam, dan para tunawisma yang mencari tempat untuk tidur. Dengan kata lain, perintah pengadilan ini akan digunakan untuk mengubah orang yang sudah miskin menjadi penjahat juga.

Tunawisma, yang berada di strata paling bawah dalam masyarakat kita sudah pasti sangat rentan terhadap kriminalisasi. Pada akhir tahun lalu kota Los Angeles mulai mempertimbangkan undang-undang baru yang melarang membeli makan tunawisma di tempat-tempat umum; pada dasarnya melarang dapur umum, dan menghapus salah satu kenyamanan kecil yang dimiliki warga miskin ini. Philadelphia, Raleigh, dan Orlando, adalah beberapa kota yang telah memiliki undang-undang serupa. Semua ini adalah bagian dari upaya untuk menyingkirkan para tunawisma dengan membuat aturan bahwa tidur di luar rumah, meminta-minta, atau bahkan mendapatkan akses terhadap makanan adalah merupakan tindakan kriminal...

Lalu, apa yang akan dicapai dari semua itu? Mirip dengan pemberangusan serikat pekerja di awal abad ke-20, kriminalisasi orang miskin bukan bertujuan untuk meningkatkan tingkat kehidupan orang-orang yang berada di bagian bawah piramida sosial kita, melainkan mereka yang berada di puncak piramida. Hal ini mengekalkan gambaran si kaya-kelas yang dilindungi di satu sisi, dan kelompok si miskin yang terus-menerus miskin dan teraniaya di sisi lain. Ini merupakan upaya untuk mencegah solidaritas kelas di antara sesama mereka yang menjadi miskin karena pemotongan upah, pengangguran, dan pengurangan jaminan sosial dengan cara menandai sebagian dari mereka sebagai 'penjahat' yang harus dipandang rendah daripada dibantu.
Alih-alih semakin merusak harapan kalangan termiskin dalam masyarakat, sudah saatnya untuk mengriminalisasikan perbuatan-perbuatan yang benar-benar membahayakan – seperti spekulasi di Wall Street, penjualan kredit subprima yang menyebabkan krisis keuangan, dan penggalian, pengeboran, serta melakukan rekah hidrolik (fracking) terus-menerus untuk mendapatkan batu bara, minyak, dan gas. Hal seperti ini akan mendatangkan kebaikan bagi seluruh lapisan dalam masyarakat kita, bukan hanya kepada segelintir minoritas yang diuntungkan oleh undang-undang yang ada saat ini.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 4.02: http://anashell.blogspot.com/2014/02/are-poor-real-criminals.html

[ kriminalisasi warga miskin, masyarakat kapitalis modern, revolusi industri, George Monbiot, The Guardian, IPNAs, Tunawisma, Los Angeles, Ana shell ]

Sunday, February 16, 2014

Capturing the future for fossil fuels

A few years ago, one of the big new hopes for the extractive and fossil fuel industries was the technology of carbon capture and storage (CCS). The aim is very simple, and encapsulated fairly well in the name – to capture the carbon that is released from otherwise polluting power plants, and to store it in porous rocks underground. Despite generating quite a buzz during the Copenhagen climate change conference back in 2009, things have been quiet for CCS for a few years – originally because the world was still trying to commit itself to renewable energy rather than fossil fuels, and more recently because we’ve become obsessed with new and more difficult to extract forms of those same fossil fuels, such as tar sands and fracked natural gas. However, things may be getting back on track for CCS – a recent report in The Guardian suggested that the British CCS industry alone could be worth £35 billion by 2030. Extrapolate that too much bigger countries like the US and China, and countries with similar or growing levels of emissions like Germany, Japan, Canada, and Australia, and the amount of money at stake could be utterly astronomical.

Initially, CCS actually sounds like a pretty decent idea. If we have the technology to capture our emissions and store them somewhere safe, away from the earth’s atmosphere where they are causing so much damage, why shouldn’t we do it? After all, we can’t switch immediately from fossil fuels to a completely renewable energy economy, so we’ll have to do something to cope in the meantime, right? Unfortunately, there’s a couple of sets of problems with this – practical problems, and theoretical problems. On the practical side of things is the fact that CCS doesn’t actually get rid of the emissions, it just buries them – out of sight, out of mind. An unforeseen leakage, a natural disaster like an earthquake, the ground being dug up for some reason – any of these things could easily see the carbon released back into the atmosphere, completely negating any benefits that CCS might have temporarily provided.
But perhaps more important are the theoretical problems, the ways in which CCS provides us with the wrong mindset to approach the problems of the coming century. Essentially, CCS is not just a way of dealing with the inevitable problems of fossil fuels while we switch over to a renewable economy. CCS is a crutch on which to prop up the existing fossil fuel system in order to avoid switching to renewable energy. Once the carbon is buried in the ground, politicians will claim the problem is solved, and there’s no need to do anything to help develop new, efficient, or renewable technologies – a position which, of course, helps their friends and funders in the fossil fuel industry.
The fossil fuel industry will continue to be privileged, and the other issues around fuel extraction will be ignored. The destruction that comes to communities where fracking is taking place; the impact of tar sands developments on Canadian First Nations; the upcoming problem of peak oil; the continued wars in the Middle East in the name of resource grabbing – all of these things will be pushed to the side and ignored in the name of continued profit if CCS allows us to make oil, gas, and coal seem ‘green’. This would be a terrible shame – fossil fuels are perhaps the most destructive substance on earth today, and it’s absolutely vital that the kind of work we do at NRGLab to develop efficiencies and alternatives isn’t ignored in favour of keeping the existing, damaging economic status quo.

ana shell media, ana shell media press, British CCS industry, Canadian First Nations, capture emissions, carbon capture, carbon capture and storage, CCS, climate change, climate change conference, Copenhagen climate change conference, damaging economic status quo, dealing with inevitable problems, destructive substance NRGLab, earth's atmosphere, energy economy, extractive industry, fossil fuel industry, fossil fuel system, fossil fuels, fracked natural gas, fuel extraction, get rid of emissions, levels of emissions, natural disaster, peak oil, polluting power plants, porous rocks, power plants, practical problems, renewable energy, renewable energy economy, renewable technologies, resource grabbing, switching to renewable energy, technology of carbon capture and storage, The Guardian, theoretical problems, unforeseen leakage, wars in the Middle East

Thursday, February 13, 2014

水力压裂:通往灾难之路

美国最近的报道表明,被称为“水力压裂”的新能源技术造成的水污染可能比人们之前想象的更为普遍。宾夕法尼亚州、西弗吉尼亚州、得克萨斯州和俄亥俄州均有与污染相关的投诉。德克萨斯州对投诉进行了最为详尽的报道(考虑到宾夕法尼亚州更自由的景象,这可能会让德克萨斯州自己也大吃一惊),该州收到了2,000多份对石油和天然气井提出的投诉,虽然至今为止还没有水污染事例得到证实。但是,在宾夕法尼亚州,已经记录了100多起因石油和天然气业造成的水污染事例,包括压裂井。

当然,最早将压裂(或者使用其专有名称水力压裂)带进主流大众意识中的就是纪录片Gasland(《天然气之国》)了,该片向我们展示了屋主用普通打火机点燃家中自来水的景象。因为压裂作业要把数十万加仑的水和化学品泵入地下,以此压裂土地,释放其中的天然气。它给当地地下水带来了交叉污染的内在风险——同时,作为压裂液使用的化学品的试剂成分也始终是该行业绝口不提的秘密。                 

在过去几年里,压裂作业已蔓延至全美国,最近还开始扎根英国等其他国家。在此情况下,这些发现是否能阻止,或者至少减缓这股压裂热潮呢?一些屋主因无可争议的供水中断而获得了大量赔偿,压裂作业也与之成比例地增长,看来能源公司将不可能认输了。从根本上来说,压裂作业让人们有机会持续使用便宜的陆上天然气储备,同时防止目前的化石燃料经济衰退——企业和政府将不会错过这类机会,因为转变成基于可再生能源、更环保的能源经济,受到威胁的将只会是那些从现状中获取权力和利益的人。

除此之外,似乎大部分压裂井都将设在乡村及工薪阶级所处的城镇郊区。此类基础设施将会影响到的大部分人都只有很少的土地和关系,基本上是对此情况无能为力的人。富有的土地所有者将用他们的金钱来保护自己,不受压裂井的影响,而留给穷人将是,土地被毁,风景被破坏,他们的健康也以企业利润之名被夺走。


可以肯定的是,持续追求化石燃料是我们的时代最大的愚蠢。我们有那么多潜在的替代品——我们正在NRGLab探究其中部分选择——与目前接收公共基金和政府支持的压裂作业等行业相比,它们都将是更好的资助对象。明智地使用技术能降低家庭能源账单,让人们摆脱能源不足的困境,保护我们的自然环境——而不是在区区数年内轻松地选择化石燃料,任其污染水源,摧毁我们的健康。希望公众对压裂作业危险的认识,将成为未来几年内实现真正改变的第一步。

从英文版翻译而来。
原文于 1月23, http://anashell.blogspot.com/2014/01/fracking-our-way-to-disaster.html
[ 水力压裂, 油和天然气井, 新能源技, 水污, nrglab, Ana Shell Fund, Gasland ]

Sunday, February 9, 2014

Penjara demi Keuntungan Materi - Rencana Kotor Korporasi Model Baru

Kita menyaksikan banyak hal sedang terjadi di dunia melalui berita dalam beberapa minggu terakhir ini, sehingga sulit untuk tetap memantau berbagai eksploitasi dan penindasan yang semakin meningkat yang terjadi berbagai belahan dunia. Namun, ada sebuah berita beberapa bulan lalu yang menarik perhatian saya saat ini - berita ini hampir tidak diberitakan oleh media besar pada waktu itu, meskipun termasuk jenis berita yang mengusik  kita semua.



Beritanya menyangkut seorang hakim Amerika bernama Mark Ciavarella  dari Pennsylvania.  Awal tahun ini pengadilan memerintahkan dia untuk membayar $ 1,2 juta sebagai kompensasi kepada para korbannya. Lalu, apa kejahatan yang dilakukannya? Menjual anak ke kompleks industri penjara. Ciavarella dan seorang hakim lain, Michael Conahan, dinyatakan bersalah karena menerima uang tunai jutaan dolar  dari  orang yang membangun sebuah penjara remaja swasta di Pennsylvania, sebagai ganti untuk mencari anak-anak muda yang bersalah atas kejahatan yang dituduhkan kepada mereka. Ciavarella memutarbalikkan proses peradilan sehingga mempersulit anak-anak ini untuk membela diri, menolak hak-hak hukum mereka, dan mengirim anak-anak berumur sekecil 10 tahun ke penjara-penjara swasta, seringkali hanya karena kejahatan yang sangat kecil.

Hal ini jelas sangat memuakkan.  Tetapi para pendukung sistem pidana kita saat ini akan mengatakan bahwa itu hanya ulah segelintir oknum saja, tidak terjadi secara sistematis. Sebenarnya, hal ini jauh lebih serius daripada itu. Penjara milik pribadi menjadi lebih umum di seluruh dunia - Penjara ini adalah penjara yang dibangun oleh pengembang dan perusahaan keamanan, yang dirancang untuk memberikan keuntungan materi bagi perusahaan yang menjalankannya. Keuntungannya didapat dari pemerintah yang membayarkan sejumlah uang kepada mereka untuk setiap tahanan yang berada di penjara mereka.  Ini berarti penjara swasta memiliki dua kepentingan utama - memasukkan orang sebanyak mungkin ke penjara, dan menghabiskan uang sesedikit mungkin untuk mengurus tahanan mereka (dengan kualitas makanan yang buruk, petugas keamanan yang lebih sedikit, kegiatan tahanan yang lebih sedikit, dan sebagainya). Semakin berhasil mereka melakukan dua hal ini, semakin banyak keuntungan yang mereka peroleh.

Hal ini menjadi masalah karena sistem penjara pada umumnya menggunakan cara yang memastikan bahwa mereka yang kuat tetap berkuasa, dan mereka yang tidak mempunyai apa-apa tetap ditindas. Peluang Anda dikirim ke penjara jauh lebih tinggi jika Anda miskin dibandingkan jika Anda kaya, dan dalam beberapa kasus hanya karena berada dalam kemiskinan  menjadi alasan untuk mengirim seseorang ke penjara - pikirkan para tunawisma yang dilaporkan karena mereka masuk tanpa izin, atau meminta uang dari orang yang lewat secara ilegal. Sistem politik dan ekonomi kita telah merenggut banyak hal dari masyarakat kita- mereka telah kehilangan rumah, pekerjaan, uang, dan bahkan kehilangan kebebasan mereka sekarang. Tetapi,apa alasannya? Supaya para pengembang swasta - mereka yang berada di puncak piramida ekonomi kita - dapat menghasilkan lebih banyak uang.

Ciavarella dan rekan-rekannya adalah salah satu contoh terburuk kasus eksploitasi ini - merenggut kehidupan orang lain demi keuntungan materi. Namun, ini hanyalah puncak dari gunung es. Banyak penjara swasta memiliki perjanjian dengan pemerintah daerah untuk menjamin tingkat hunian yang tinggi - yang berarti pemerintah setuju untuk mengirim sejumlah orang ke penjara, tidak peduli jumlah kejahatan yang mereka lakukan. Itu berarti harus lebih banyak hukum yang dibuat dan menjadikan lebih banyak hal menjadi ilegal, sehingga akan lebih banyak lagi orang yang hidupnya dapat dirusak.

Inilah cara baru untuk menjalankan perekonomian saat ini, menghasilkan keuntungan materi, mencari nafkah.  Sebagai manusia, kita memiliki begitu banyak kecerdikan, dan begitu banyak kemampuan untuk menghasilkan hal-hal baik - sayangnya, alih-alih bekerja sama untuk kebaikan, kita malah berbalik melawan satu sama lain, dan menjadi masyarakat yang kehilangan segalanya, dan masyarakat yang memenangkan segalanya. Melalui Ana Shell Fund kami berharap bisa mengubah hal ini, walaupun akan memakan waktu lama dan menghabiskan banyak energi - kami berharap untuk mengantarkan masyarakat yang lebih kooperatif dan adil, tempat semua orang bisa menjadi pemenang.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 17.12.2013: http://anashell.blogspot.com/2013/12/prisons-for-profit-latest-corporate.html

[ Penjara demi Keuntungan Materi, Mark Ciavarella, Michael Conahan, sebuah penjara remaja swasta di Pennsylvania, penjara-penjara swasta, memberikan keuntungan materi ]

Tuesday, February 4, 2014

Are the poor the real criminals?

One of the most pernicious aspects of modern capitalist society, and one which we are increasingly seeing today, is the criminalization of poor people. It’s always been this way, to some extent, since the industrial revolution. In the dialectical battle of the capitalists against the workers, unions were developed as a method for the workers to maximize their potential for profit. They were treated as social pariahs, called communists, and, in many cases, physically attacked by police and hired thugs – to the extent that today, the union movement in the west is a fragile shadow of what it was one hundred years ago. On the other hand, attempts by capitalists to maximize their own potential for profit, by reducing wages, increasing working hours, and neglecting safety regulations, have almost always been supported by governments, sometimes implicitly and sometimes explicitly, through the passing of pro-corporate laws.

In a recent column in The Guardian, the journalist George Monbiot discussed yet another legal means of repression that authorities could soon be using against the poor – IPNAs, or Injunctions to Prevent Nuisance or Annoyance. These injunctions can be served against anyone for any actions that a judge believes may cause ‘nuisance’ to someone else. Repeating the action after the injunction has been granted can lead to a two year jail sentence, even though the actions themselves may not ordinarily be considered crimes. As Monbiot points out, these injunctions will not be used against ‘respectable’ people making noise or blocking the pavements outside wine bars and opera houses. They will be used against soccer fans, protestors, young people who are considered noisy or threatening, and homeless people looking for a place to sleep. In other words, they will be used to turn people who are already poor into criminals as well.
Homeless people, those with the absolute least in our societies, are particularly susceptible to criminalization. At the end of last year, the city of Los Angeles began considering a new law to ban the feeding of homeless people in public areas – essentially banning soup kitchens, and taking away one of the few comforts that these poverty-stricken people have. Philadelphia, Raleigh, and Orlando, among other cities in the US, already have similar laws on their books. They are part of an attempt to legislate homeless people away by making it criminal for them to sleep outdoors, to beg for money, or even to gain access to food..
What does all of this achieve? Much like the union-bashing of the early 20th century, this criminalization of the poor is not intended to improve the lives of anyone at the bottom of our social pyramid, but rather those of the people at the top. It perpetuates the existence of a wealthy, protected class, and a persecuted, perpetually poor group at the other end of the spectrum. It is an attempt to avert class solidarity among the vast majority of people who are being made poorer by wage cuts, unemployment, and reductions in social security by designating a certain percentage of those people as ‘criminals’ who should be looked down on rather than helped.
Instead of further damaging the prospects of the poorest in society, it’s time to criminalize the truly harmful activities – the speculation on Wall Street, the selling of sub-prime mortgages that led to the financial crash, and the constant digging, drilling, and fracking for coal, oil, and gas. These things would improve society for all of us, rather than just for the small minority that existing laws benefit.
, , , , , , , , , , , , , , ,, , , , , , , , , , , , , , , ,, , , , ,, , , 

Sunday, February 2, 2014

头破血流的领悟——学生们走上了街头

最近一起学生抗议活动出现在英国,这一系列的学生运动可追溯到几年前,亦即当前的联合政府开始执政之时。最近的抗议活动围绕着大学当局和警局串通一气,阻止学生示威游行,有时甚至会逮捕带头之人而展开。为数不少的大学已经申请并获得了禁令,用于在未来六个月内阻止其校园内举行的任何抗议活动——本应支持言论自由的机构,做出了背叛这一原则的行为。
英国学生并不是唯一因所处条件而滋事的人——一年前,在加拿大的魁北克省,面对上涨的学费,就出现过一次影响甚广的学生运动;而在上周,继一名学生在开罗受到警察枪击之后,埃及各地大学也发生了暴动。所有这些抗议活动都有其自身的环境——伦敦和开罗的情况显示是有很大区别的——但是,它们都提出了一个问题:为什么世界各地的学生在政治活动中越来越积极。
其中一个重要原因就是,学生们在深入思考这个世界的同时,也处于见证这个社会正在发生的私有化的理想位置。在很多情况下,他们的大学为其提供了很好的例子——我们关闭了被视为从经济上更无用的科系,而大学职员,从清洁工到讲师,也被解雇或者被冻结工资。我们可以很清楚地看到,与学习成绩优秀相比,世界各地的许多大学现在更关注利润和延续现有经济状态。
此外,可能还有一个更重要的原因,那就是学生们非常聪明,看到了当他们毕业之时,他们将不会获得足够多的机会。他们被灌输了这样一个梦,那就是如果你在大学努力学习,不管你生活的起点如何,你都将获得成功。但是,随着社会上富人和穷人之间的分界线越来越清晰,学生们意识到了,实际上,他们中的大部分人都将以输家的身份走上生命之旅,这与他们学习的努力程度无关。成功和财富只属于那些已经身处“俱乐部中”的人——他们有富有的父母,又或者说,他们的家庭关系将帮他们得到为数不多的高薪工作。对大多数学生来说,未来是暗淡的——在星巴克从事一份拿最低薪水的工作,还有如山般堆积的债务。我们正创建生来即为赢家或输家的社会。
作为部分对此情况提出最直言不讳批评的人,以及部分损失最大的人,目前学生们正面临着镇压,借此阻止他们传播消息。开罗的枪击事件、伦敦的“围堵”和抓捕——各种方法悉数用尽,目的都是阻止学生与他人接触,包括在这个厉行紧缩的年代失去了生计和机会的人。所有人都应该竭尽全力,让更多人了解学生们的精神和观点——我们需要的社会应该将人的价值、对知识的需求、创造力和公正视为重中之重;而不是一个认为利润高于一切、让赢家和输家之间的差距继续增大的社会。

从英文版翻译而来。
[ 学生抗议活动出现在英国, 学生运动, 英国学生, 政治活动, Ana shell, 盈利性监狱, 所未有的经济增长 ]

Monday, January 27, 2014

Energi Indonesia

Pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun
Saya terbang ke Jakarta pada tanggal 14 Januari karena mendapat kabar bahwa Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Bapak Djauhari berada di Indonesia.  Bapak duta besar mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat dirinya disibukkan dengan berbagai kegiatan dan keramahtamahan.  Beliau telah mendukung sejumlah proyek yang berpotensi membantu mengembangkan berbagai industri di Indonesia, dan selama pertemuan dua kali dengan beliau, kami membahas potensi besar untuk energi ramah lingkungan di Indonesia.  Indonesia dikaruniai cahaya matahari yang melimpah dan kelembapan yang tinggi - kondisi yang sempurna untuk perkembangbiakan beraneka ragam tumbuhan setiap tahunnya - dan bapak duta besar telah memberi tanda akan ketertarikan beliau pada metode yang ada untuk mengonversi tumbuh-tumbuhan (biomasa) menjadi energi listrik yang hemat biaya. 

Pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Yang Mulia Bapak Djauhari Oratmangun: Bapak Djauhari, Ana Shell, Dede Apriadi (Pemimpin redaksi, PT NET Mediatama Indonesia)
Kenyataannya adalah teknologi gasifikasi biomasa yang ada saat ini untuk menghasilkan listrik tidak menguntungkan secara ekonomi.  Saya telah menjelaskan hal ini dalam publikasi saya sebelumnya. Saat ini, kompetisi antara bahan-bahan mentah murah seperti minyak mentah dan gas itu sia-sia.  Namun, gasifikasi biomasa dapat bersaing selayaknya dengan minyak mentah dan gas apabila memenuhi dua syarat berikut ini.  Syarat pertama, adanya turbin gas yang murah (sebagai bagian dari sistem gasifikasi), dengan harga yang tidak lebih dari US$250 per 1 kW/jam kapasitas.  Turbin seperti ini akan menghasilkan listrik murah untuk seluruh fasilitas gasifikasi (dengan demikian turbin ini menjadi turbin mandiri), dan juga menghasilkan listrik hemat biaya serta listrik tambahan untuk dikonsumsi pasar.  Misalnya: biaya 10 MW/jam turbin gas di pasaran saat ini adalah US$10 juta, yang menghasilkan listrik dengan biaya US$0,18. Idealnya, biaya turbin gas tidak bisa lebih tinggi dari US$2,5 juta sehingga dapat menghasilkan listrik dengan biaya US$ 0,06.

Syarat kedua adalah turbin baru harus mempunyai efisiensi yang tidak kurang dari 60%. Jenis turbin gas ini (Eco-SV turbine) sedang dikembangkan oleh perusahaan Singapura, NRGLab Pte Ltd., dengan pendanaan yang berasal dari Ana Shell Fund.

Pertemuan dengan PT Medco Power Indonesia
Saya bertemu dengan tim dari PT MedcoEnergy pada tanggal 15 Januari.  Topik utama diskusi kami adalah kemungkinan untuk memulai kerja sama bisnis untuk pasar lokal Indonesia dan pasar energi global. 
Di Indonesia, listrik yang diproduksi dari gasifikasi biomasa bisa menjadi jenis produksi utama energi dalam waktu dekat.  Harga bambu, limbah sawit, atau sekam padi per ton setara dengan harga 180 kg LNG (yaitu US$70) atau 1 ton batu bara (US$50). Hal ini berarti bahwa jumlah listrik yang sama, yaitu 1,5MW/jam, dihasilkan dengan membakar 180 kg LNG, 1 ton batu bara, atau 1 ton limbah sawit, sekam padi, atau bambu.  
Bagaimanapun, untuk Indonesia akan lebih menguntungkan dengan membakar biomasa, karena jenis bahan bakar ini adalah sumber energi terbarukan dan dua kali lebih murah daripada minyak mentah.  Apabila disetujui, maka konsep ini memungkinkan Pemerintah Indonesia untuk mengekspor minyak mentah dan LNG, dan menarik mata uang asing.  Dengan harga limbah pertanian atau tumbuhan liar sebesar US$10 per ton, maka harga satu kW/jam listrik diperkirakan sebesar US$0,5-0,8.

Pertemuan dengan Medco Power
Saya berbicara selama satu jam dengan Bapak Soetrisnanto, Senior Advisor, dan Bapak Hernawan, Business Development Consultant, dan tim Medco tentang pemanfaatan energi yang dihasilkan dari gasifikasi biomasa.  Secara pribadi saya menyukai strategi yang diperkenalkan oleh Dewan MedcoEnergy untuk menjadi "perusahaan energi yang disukai" para investor, pemegang saham, mitra, karyawan, dan masyarakat.  Kami memutuskan untuk bekerja sama (dari pihak saya melalui NRGLab) pada proyek gasifikasi biomasa dan generator listrik, yang bisa sangat menguntungkan di pasar.   MedcoEnergi dan Pemerintah Indonesia telah mengumumkan niat mereka untuk mengurangi konsumsi minyak sebesar 25% dalam waktu lima tahun mendatang dengan mengenalkan proyek-proyek energi alternatif, termasuk pengembangan energi geotermal.  Pada tahun 2025, Jakarta berniat meningkatkan produksi energi alternatif sebesar 9 ribu megawatt, yang akan memungkinkan untuk menghemat 4 miliar barel minyak mentah selama kurun waktu tersebut.

Ana Shell di Jakarta

PT Sarana Multi Infrastruktur
Saya bertemu dengan pimpinan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) pada tanggal 16 Januari untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut terhadap proyek gasifikasi biomasa dengan menggunakan turbin gas NRGLab Pte. Ltd. Predir PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Ibu Emma Sri Martini dan timnya akan menyediakan solusi teknis bagi pembangunan infrastruktur, sehingga akan menjamin pertumbuhan proyek-proyek energi terbarukan secara nasional.
Kami juga membahas sebuah proposal untuk memanfaatkan 10 juta ton residu berat yang dikeluarkan dari kilang minyak Pertamina setiap tahunnya.  Dengan menerapkan teknologi Viscoil, 10 juta ton residu berat tersebut dapat diubah menjadi 6 juta ton bahan bakar disel, yang akan menghasilkan laba sekitar US$3 miliar.  Biaya modal untuk melengkapi kembali kilang minyak diperkirakan sebesar US$30 juta, dan proyek ini akan berlangsung selama 6 bulan. Sebagai perbandingan: biaya modal membangun 8 kilang pemecahan viskos (visbreaking) membutuhkan waktu tidak kurang dari 10 tahun dengan  biaya US$6 miliar. 

Pusat Investasi Pemerintah (PIP)
Saya juga bertemu dengan manajemen PIP yang dikepalai oleh Pak Siregar, beliau mendengarkan pemaparan dua proyek yang diajukan dan menujukkan peran potensial PIP dalam proyek-proyek tersebut.  Saya menyimpan harapan tinggi bahwa PIP akan menjadi katalis untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur dalam sektor-sektor strategis utama perekonomian Indonesia.  Kami telah sepakat untuk mengembangkan sebuah strategi untuk proyek tersebut bersama-sama, menyediakan penilaian untuk mengurangi risiko secara terperinci, dan berusaha membereskan aspek hukum agar dapat membuat kesepatakan investasi dengan PIP yang potensial.  Bapak Soritaon Siregar menunjuk dua staff ahlinya, Julia dan Puji, untuk bekerja dengan Ana Shell Fund dan langsung menyiapkan semua dokumentasi yang dperlukan (lihat foto di bawah ini).

Pertemuan dengan manajemen Pusat Investasi Pemerintah (PIP): Julia Rahmi, Ana Shell, Puji Sugia Harjiman

Sebagai catatan pribadi, saya ingin mengomentari tingkat keoptimisan penerapan energi geotermal di Indonesia.  Mahalnya biaya pemanfaatan energi dari "gunung berapi" tetap menjadi kendalanya: biaya pembangkit geotermal dua kali lebih mahal daripada PLT batu bara dengan kapasitas yang sama; terlebih lagi, pekerjaan ini membutuhkan riset selama bertahun-tahun dan mengembangkan desainnya.  Proyek gasifikasi biomasa NRGLab dua kali lebih murah dan lebih cepat; dan juga memanfaatkan material terbarukan sebagai bahan-bahannya yang tersedia di Indonesia.  Proyek kedua kami - memproduksi 6 juta ton disel dari residu berat kilang-kilang minyak Pertamina, dapat dilaksanakan dalam waktu satu tahun dengan investasi minimum.  Yang Mulia Bapak Duta Besar Djauhari Oratmangun telah mengidentifikasi kedua proyek ini sebagai awal dari kerja sama strategis jangka panjang kami. 

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 27 Januari: http://anashell.com/anashell/2014/01/27/energy-indonesia/
energi Indonesia, Duta Besar Indonesia, Bapak Djauhari Oratmangun, energi ramah lingkungan, energi listrik, gasifikasi biomasa, menghasilkan listrik, menguntungkan secara ekonomi, minyak mentah, ana shell media press, ana shell media, ana shell, ana shell fund, NRGLab, turbin, Eco-SV turbine, NRGLab Pte Ltd, Medco Power Indonesia, MedcoEnergy, pasar energi global, produksi energi, limbah sawit, sekam padi, sumber energi terbarukan, LNG, menarik mata uang asing, limbah pertanian, tumbuhan liar, Bapak Soetrisnanto, Bapak Hernawan, Pemerintah Indonesia, konsumsi minyak, energi geotermal, energi alternatif, Sarana Multi Infrastruktur, SMI, Persero, Ibu Emma Sri Martini, proyek-proyek energi, teknologi Viscoil, nettv, Pusat Investasi Pemerintah, PIP, Pak Siregar, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur,  Julia Rahmi, Puji Sugia Harjiman, residu berat kilang-kilang minyak Pertamina, strategis jangka panjang