Showing posts with label gasification nrglab. Show all posts
Showing posts with label gasification nrglab. Show all posts

Monday, November 4, 2013

生物质气化趋势

在任何用作燃料的有机物的燃烧或生化转化过程中就会产生生物质能。用于生产生物质能的有机物包括木材、木屑、草、玉米、甘蔗、农业废料和其他植物。将生物质转化为能源的处理方法也多种多样。
如果涉及到废料,那么,生物质能还能带来额外的好处,因为它将垃圾变成了能源;如果使用的是农作物,那么,它就能在经济上给农民带来好处。专门为生物质应用种植作物也是可以的,最环保的生物质生产形式则是使用废旧产品。

乙醇等生物质燃料生产的能源,大约是投入能源的五倍,这让它成为了一种具有经济可行性的能源。它的不足之处在于运送燃料的距离越远,它也就变得越不实惠。因此,能发挥生物质能最大价值的处理方式就是,将生物质用在其生产之地,比如农场和周边社区。
科学家们正在努力寻找更有效的生物质能使用方式,因为与化石燃料相比,环境能从生物质能中受益更多。向生物质的过渡将有助于世界减少废物生产和温室气体排放。但同时,由于技术相对较新,生物质燃料的生产成本仍然较高。改善燃料的生产方式,让其更有效率,同时降低生产成本,仍然有待研究。
在高温条件下,控制石油、煤、生物质、生物燃料等碳材料转化为氢气和一氧化碳时的氧气与蒸汽量,就会发生气化。这一转化过程会产生被称为合成气的物质,与燃烧过程相比,能更有效地生产生物质。合成气可直接用于燃烧,也可用来创造甲醇和氢,甚至还能更一步转化为合成燃料。
使用生物质的最佳方式是利用燃气涡轮机启动之后的气化。
在不久的将来,如能正确运用此类涡轮发电机,就能形成经济产业,进而积累大量的生物质(炼糖厂、酿酒厂、加工甘蔗的工厂等)。
国家可以使用生物质来发电,让生物质取代煤、燃气或石油,借此还能双倍减少二氧化碳的排放量。
NRGLab推出的(专利申请中)燃气涡轮机可以从甲烷、丙烷、丁烷、甲醇及其衍生物,以及合成气中,生产出世界上最廉价的电力,每千瓦时仅为0.02美元。与传统的涡轮机相比,NRGLab 涡轮机不仅拥有更高的转化效率(传统涡轮机仅为75%),它也更为廉价。NRGLab 推出的一台25MW涡轮机预计售价为1500万美元,而当今市场上的同类涡轮机售价却可能高达4000万美元。借助于NRGLab燃气涡轮机气化,价格就会回落到一个新水平,借此,生物质不会被视为燃料,而是为了发电而燃烧,进而为您带来收益。

从英文版翻译而来。原文于 107, http://anashell.com/anashell/2013/10/07/biomass-gasification-trend/
[ energi biomassa, gasifikasi biomassa, biomass gasification, gasification Ana Shell, gasification nrglab, gasification project, 绿色能源, 塞浦路斯银行危, 腐败, 日本的辐射, 生物质气化趋势 ]

Sunday, October 13, 2013

Ana Shell Berkunjung ke Filipina Untuk Membahas Proyek Gasifikasi

Departemen Pertanian Filipina pada tanggal 14 Agustus  2013 mengadakan pertemuan bisnis dengan Ana Shell, pemilik lembaga pendanaan yang dinamai ‘Territory of Shell’ (www.anashell.com) dan perusahaan NRGLab (Singapura) (www.nrglab.asia) bersama dengan Atty. Emerson U. Palad, Undersecretary dan Kepala Staff Departemen Pertanian, Manuel Jose C. Regalado, Deputy Executive Director Insitut Riset Padi Filipina, Rex L Bingabing, Executive Director PHILMECH (Pusat Pengembangan dan Mekanisasi Pascapanen Filipina), spesialis penelitian sains dari Departemen Energi bersama dengan Jamie Joseph Q. Castillo.



Setiap tahunnya Filipina menghasilkan hingga 1 miliar ton biomassa, atau setara dengan sekitar 200 juta ton  LNG (bernilai 100 miliar dolar).

Untuk tujuan listrik, secara teknis memungkinkan bagi Filipina untuk mengkonsumsi hingga 500 juta ton semak biomassa (pohon kelapa, padi, limbah pisang dan nanas, manga, dll) setiap tahunnya.

Gasifikasi 500 juta ton biomassa setiap tahunnya setara dengan 100 juta ton LNG. Biaya yang dipulihkan (cost recovery) dari pembangunan pembangkit listrik dari gas sintetik (syngas) adalah 3 tahun setelah peluncuran pembangkit listrik. 

Potensi penggunaan biomassa di Filipina dapat menggantikan batu bara, gas, atau minyak yang dibakar untuk menghasilkan listrik. Terlebih lagi, emisi karbon dioksida bisa dipangkas hingga separuhnya.

Satu permasalahan yang dibahas secara intensif dalam pertemuan bisnis tersebut adalah pembangunan pembangunan gasifikasi NRGLab, dengan menggunakan turbin pintarnya sebesar 25 mWh (yang menelan biaya sebesar 25 juta dolar).

Bahan baku bagi pembangkit gasifikasi tersebut akan berasal dari para petani Filipina dengan harga 25 dolar per ton.   

Untuk kebutuhan satu tahun operasional, pembangkit tersebut memerlukan 210.000 ton limbah pertanian (bahan baku) senilai 5.250.000 dolar. Dari bahan baku pertanian ini dapat menghasilkan 215 miliar kWh listrik. Sedangkan harga jual rata-rata listriknya adalah 0.12 dolar, atau sama dengan nisbah harga hasil 25,8 juta dolar.  

Ikuti tautan berikut ini untuk mempelajari lebih jauh tentang program gasifikasi: http://www.nrglab.asia/projects/gasificationprogram.html


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 20 Agustus: http://anashell.blogspot.com/2013/08/ana-shell-visits-philippines-to-discuss.html

[ Proyek Gasifikasi, Proyek Gasifikasi NRGLab, Biaya Energi Tetap Rendah, energi, Atty. Emerson U. Palad, Manuel Jose C. Regalado, Jamie Joseph Q. Castillo, Rex L. Bingabing, LNG, PHILMECH, Departamen Energi, Ana Shell NRGLab, gasification nrglab, nrglab asia, sh-box nrglab, NRGLab Pte Ltd ]

Sunday, October 6, 2013

The U.S. energy bubble – too much of a good thing?

In 1973, the United States’ oil embargo on the Middle East resulted in an era of energy scarcity. Now, forty years later, the country is on the cusp of an energy revolution and an economic surge like never before.

What’s behind this revolution? New technology!



Breakthroughs like horizontal drilling and hydraulic fracturing (fracking) have allowed energy companies to tap into vast reserves of oil and natural gas. Wind and solar, once thought to be green fantasies, have finally become economically feasible. Public utilities are reimagining our obsolete energy infrastructure into something smarter and far more efficient.

By 2020, the U.S. could very well produce as much oil as it consumes, reducing the country’s dependence on an often unstable, and therefore unpredictable, Middle East.

“The transformation we’ve seen in just the last few years from an outlook of scarcity to one of abundance is real,” says Jason Bordoff, Director of Global Energy Policy at Columbia University. “It has huge economic, geopolitical and environmental implications.”

The benefits are obvious. By replacing coal with cheaper, all-natural gas, the U.S. has reduced carbon emissions despite bolstering domestic manufacturing. That means that billions of dollars that would have gone overseas are now staying at home, providing capital for future investments.

Yet energy abundance comes with a whole new set of challenges. Environmentalists have protested the government’s involvement in fracking for oil and gas, and economists have warned that the energy bubble – like the dot com bubble of the 90s – could burst at any time.

But the bubble isn’t just in oil and gas—renewables like solar and wind are growing rapidly. And thanks to the government’s focus on energy efficiency, the U.S. now gets twice as much “bang for its buck” than it did thirty years ago, when the economy was a third its current size!

Global greenhouse gas levels reached an all-time high last year, and in June, the International Energy Agency claimed that we were headed towards a temperature increase as high as 9.5°F by the end of the century – which would all but spell the end of civilization as we know it.

Amy Myers Jaffe, Executive Director of Energy and Sustainability at the University of California – Davis, says that “people can no longer rely on high oil prices and fossil-fuel scarcity to motivate a climate agenda. It completely changes the picture.”


So is too much of a good thing bad for you?  The U.S. is about to find out.

[ energy bubble, energy scarcity, energy revolution, hydraulic fracturing, Jason Bordoff, Columbia University, Amy Myers Jaffe, Ana Shell NRGLab, gasification nrglab, NRGlab, NRGLab Pte Ltd ]

Tuesday, October 1, 2013

Tingkat Radiasi di Jepang 18 Kali Lebih Tinggi Dari yang Dilaporkan – Berkat PLTN

Sampel air yang baru-baru ini diambil dari luar reaktor nuklir Fukushima Daiichi di Jepang menunjukkan tingkat radiasi hampir 18 kali lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya.  Pada tahun 2011 silam, tsunami menghantam PLTN, menyebabkan hampir 19.000 orang tewas dan kebocoran reaktor Fukushima Daiichi meningkat tiga kali lipat. Kebocoron itu telah memaksa 16.000 orang direlokasi.


Meskipun operator PLTN tersebut, Tokyo Electric Power (Tepco), belum menemukan penyebab penyebaran radiasi, namun mereka menolak keras dugaan adanya “kebocoran”.

Muak dan lelah mendengar tentang bencana PLTN? Kami juga.

Peristiwa ini juga bukan peristiwa memalukan pertama bagi Tepco. Bulan lalu, perusahaan ini mempunyai tangki penyimpanan – mirip dengan yang berisiko di Fakushima Daiichi yang membocorkan 300 ton air radioaktif ke tanah. Apabila air terkontaminasi itu direncanakan untuk dibuang ke laut, dan bila demikian adanya, maka Jepang akan menghadapi ledakan bencana ekologi.

Para nelayan di sebelah selatan masih belum bisa melaut untuk mencari ikan sejak adanya kebocoran PLTN, sedangkan mereka yang di sebelah utara telah diberi tahu hanya bisa menangkap siput besar dan ikan gurita saja – sebuah tindakan yang wajib dilakukan, namun jelas telah melumpuhkan industri penangkapan ikan Jepang.

Pengawas nuklir Jepang mengonfirmasikan bahwa tingkat keparahan kebocoran Fukushima Daiichi berdasarkan 8-poin skala radiokatif dari International Atomic Energy , telah meningkat dari 1 atau hanya “anomali” menjadi 3 atau “kecelakaan serius”.

Tingginya tingkat radiasi menjadi kekhawatiran serius bagi ribuan karyawan Tepco yang bekerja lembur untuk mengisi, memproses, dan menyimpan air dengan aman. Kegagalan perusahaan menjaga lingkungan telah menyebarkan keraguan tentang kemampuan perusahaan untuk melakukan pembersihan. Menutup PLTN, apabila pembersihan tidak berhasil, akan menimbulkan beban biaya puluhan MILIAR dolar bagi ekonomi Jepang selama beberapa dekade.

Untuk menanggapi laporan lingkungan terbaru, PM Jepang, Shinzo Abe, berjanji bahwa pemerintah akan memainkan peranan lebih besar dalam upaya mencegah kontaminasi air. 

“Kami tidak bisa langsung menghentikan kebocoran air terkontaminasi. Itulah kenyataannya. Air masih terus merembes ke laut, dan sebaiknya kami melalukan penilaian dampak lingkungan,” ujar Shunichi Tanaka, kepala Nuclear Regulation Authority Jepang.

NRGLab muak dan lelah dengan berbagai cerita seperti ini. Sudah saatnya energi nuklir untuk diistirahatkan selamanya.  Inilah waktunya transisi dari kekuatan pembangkit listrik raksasa menuju sumber energi terbarukan dan independen. Karena kita tidak perlu mengorbankan keselamatan karyawan, keamanan nasional atau lingkungan, hanya untuk menghasilkan satu watt listrik. Paling tidak, cukup sudah.

Dengan teknologi ramah lingkungan seperti SV-Turbine untuk gasifikasi biofuel dan SH-Box, generator poli-kristal bebas karbon, kami dapat mengubah infrastruktur energi global secara menyeluruh.

Semua dimulai dari Anda. Saya. Kita. Dimulai dari kita sebagai sebuah spesies yang membuat perubahan ke arah energi bersih.

Anda ingin membantu menciptakan masa depan yang lebih baik? Bagaimana dengan masa depan yang lebih ramah lingkungan? Kunjungi nrglab.asia untuk informasi lebih lanjut, atau ikuti kami di Facebook untuk berbagai berita terbaru.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 15 September: http://anashell.blogspot.com/2013/09/radiation-levels-18-times-higher-in.html

[ Radiasi di Jepang, Fukushima Daiichi , Tokyo Electric Power, Tepco, PLTN,  International Atomic Energy, Shinzo Abe, Shunichi Tanaka, SV-Turbine, NRGlab, gasification nrglab, Ana Shell NRGLab ]

Sunday, September 29, 2013

Ana Shell到访菲律宾,探讨气化项目

2013814日,(菲律宾)农业部召开了一次商务会议,与会者包括“Territory of Shell(www.anashell.com)基金会的所有者 Ana Shell、(新加坡)NRGLab公司(www.nrglab.asia)、(菲律宾)农业部副部长 & 办公室主任Atty. Emerson U. Palad、菲律宾水稻研究所副执行主任Manuel Jose C. Regalado、菲律宾收获后发展与机械化中心(PHILMECH)执行主任及能源部科研专家Rex L. Bingabing以及Jamie Joseph Q. Castillo



菲律宾每年生产的生物质能高达10亿吨,相当于20,000吨液化天然气(价值1,000亿美元)所蕴含的能源。

菲律宾每年可利用50,000万吨灌木生物质能(椰子树、水稻、香蕉和菠萝废物、芒果等)来发电,这在技术上是可行的。

每年气化50,000万吨生物质能,与10,000万吨液化天然气提供的燃料相当。合成气体(合成气)发电厂能在电厂运营之后3年收回成本。

利用菲律宾生物质能的可能性有助于取代燃烧煤炭、天然气或石油发电的方式。此外,还能让二氧化碳的排放量削减一半。

在此次商务会议上,引发激烈谈论的问题之一就是NRGLab修建的第一个气化发电厂,其中使用该公司研制的25兆瓦小时涡轮机(成本约为2,500万美元)。

此类发电厂的给料将由菲律宾的农户提供,供应价格定为25美元/吨。
该发电厂运营一年需要210,000吨农业废料(给料),成本为5,250,000美元。利用这些农业废料,能生产出2,150亿千瓦时的电力。电力的平均销售价格为0.12美元,相当于能获得2,580万美元的收益。

查看下列链接,就气化项目了解更多信息:




[ 气化项目 , 菲律宾 Ana Shell, NRGlab, , Atty. Emerson U. Palad, Manuel Jose C. Regalado, Rex L. Bingabing, Jamie Joseph Q. Castillo, gasification project, gasification nrglab, Ana Shell NRGLab ]