Tuesday, July 8, 2014

Ketergantungan Energi Merupakan Masalah Bagi Kita Semua, Bukan Cuma Bagi Ukraina

Kabar dari Ukraina akhir-akhir ini terdengar semakin memburuk bagi negara tersebut. Pesawat militer di angkasa ditembaki oleh para pemberontak, separuh dari bagian timur negara ini masih terus mencoba untuk memisahkan diri (kendati Rusia tidak lagi mendukung secara vokal), dan juga wilayah Krimea sudah tidak bisa lagi terpisahkan dari Putin saat ini. Sekarang, di atas semua ini, perusahaan energi Rusia, Gazprom telah menutup penyedia gas Ukraina, yang mengklaim bahwa Ukraina belum membayar hutang. Poin positif yang masih samar-samar mengenai hal ini adalah tidak terjadi di tengah-tengah musim dingin.


Sekarang tentu saja keputusan Gazprom lebih mengarah ke politik dan bukan ke arah finansial. Sekarang sudah dipilih Presiden Ukraina yang baru, pemilihan yang pada dasarnya dianggap batal oleh Rusia karena tidak menerima revolusi terbaru dengan menendang Yanukovych keluar dari negara tersebut. Dan Rusia berkeinginan untuk tetap melenturkan otot yang baru ditemukan ini di panggung internasional, menunjukkan kepada dunia bahwa Rusia kembali kuat dan tidak boleh dianggap remeh. Bagaimanapun juga, jika negara ini ditutup karena tidak segera membayar hutang, maka sekarang hampir tidak ada negara di dunia ini yang memiliki energi.

Dan itulah masalahnya. Sebagaimana yang telah kita diskusikan di blog sebelumnya, sistem energi global kita tidak lagi bekerja dengan baik. Hal ini berdasarkan penggunaan luas bahan bakar fosil dengan kelangkaan yang semakin meningkat dan secara meningkat pula hanya dikontrol oleh beberapa negara di dunia. Jika akses untuk bahan bakar tersebut menipis, negara ini akan berada dalam masalah besar, bahkan akan seringkali untuk tidak bisa menyediakaan pelayanan dasar untuk rakyat mereka.

Sistem energi ini yang membuat Rusia mengolok-olok Ukraina saat ini. Ini juga sistem energi yang mendorong keputusan AS untuk menginvasi Irak, dalam percobaan untuk menyusun kembali wilayah Timur Tengah yang kaya minyak ke dalam gambaran mereka, dan untuk memperoleh kontrol atas persediaan bahan bakar yang cukup untuk menjalankan perekonomian berkelanjutan dalam jangka panjang. Sistem energi ini yang membiarkan kartel OPEC untuk mengontrol harga bagi konsumen biasa di seluruh dunia. Dan sistem energi yang menyebabkan kita terus-menerus menggali lebih banyak bahan bakar di tempat-tempat konvensional yang semakin berkurang – di bawah Arktika, di pasir minyak di Alaska, dan lain-lain.

Hampir di semua negara di dunia sangat bergantung pada minyak dan gas untuk kebutuhan energi mereka, dan hal ini membuat mereka semakin ketergantungan pada satu atau dua penyedia utama. Fakta ini semakin jelas digambarkan berdasarkan pada kenyataan bahwa Gazprom menutup penyedia energi Ukraina yang telah membuat khawatir EU, yang sangat memperhatikan bahwa blok adidaya mereka tidak memiliki akses ke bahan bakar yang cukup di tahun ini kecuali arus dari Rusia kembali aktif sesegera mungkin. Alih-alih kemandirian dan keberlanjutan yang menjadi tujuan yang harus diperjuangkan oleh semua negara, kita malah memiliki ketergantungan pada bahan bakar kotor.

Banyak orang menghasilkan banyak uang dari sistem ini; orang yang paling menderita adalah orang yang pada dasarnya miskin. Mereka membayar harga tinggi di pom bensin atau untuk menghangatkan rumah mereka di barat. Dan di negara berkembang mereka menderita dari dampak awal perubahan iklim, tanaman mereka musnah, desa-desa banjir, dan mata pencaharian mereka hancur.

Peristiwa di Ukrainia menunjukkan bahwa dibutuhkan kemandirian yang besar dalam sumber daya energi untuk semua negara, dan harus fokus pada teknologi energi alternatif. Daripada bergantung dengan gas Rusia, Ukraina – dan kita semua – harus fokus pada teknologi yang dapat diperbarui, ramah lingkungan, dan lebih bersih yang akan lebih mudah diakses ke seluruh dunia. Perancangan sistem energi dunia baru selama beberapa dekade mendatang harus menjadi prioritas utama bagi seluruh masyarakat internasional.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 23.06.2014: http://anashell.blogspot.com/2014/06/energy-dependency-is-problem-for-us-all.html

[ perusahaan energi Rusia, penyedia gas Ukraina, Presiden Ukraina, Yanukovych, sistem energi global, bakar fosil, Ana Shell ]

Sunday, July 6, 2014

是时候改变我们的石油文化了

美国最新公布的数据表明,页岩气引起的欢欣鼓舞似乎为时过早。曾经,页岩被认为是实现美国能源独立的答案,并声称仅加州一地,就有多达170亿桶燃油——足够在很长一段时间内,保持业务正常运作,同时,这也足以完全摧毁我们可能拥有的避免灾难性气候变化的任何机会。此外,人们也有小小的担心,因为提取页岩气需要使用令人难以置信的破坏性技术——水力压裂法,这将对土地和供水造成破坏。


不过,最新数据表明,之前的预测可能会缩减——96%。是的,与石油产业管理人员和否认气候变化的人之前的想象相比,加州页岩气的实际储量可能只是其中微不足道的部分。从焦油沙、北极的石油,到加州页岩气储量,都说明了新发现的化石燃料,往往会催生出乐观主义。每一次,当人们信誓旦旦地说已经找到了解决峰值石油问题的方法,但最终却表明我们只是发现了一种以进一步破坏环境为代价,让这个问题延后数年的方法。

当然,即便是在重新评估页岩气储量之前,液压也绝不是个好主意。著名影片《天然气之地(Gasland)》就向我们展示了压裂页岩引起的水污染是多么严重,您甚至可以点燃它。此外,液压也被认为应为英国西北部布莱克浦(Blackpool)周边发生的地震负责。正如我们之前在博客中讨论过的那样,英国目前正举行反对使用这项破坏性技术的活动,且参加的人数越来越多,规模越来越大。您可能会认为考虑到这些污染事实,以及可供提取的页岩气实际上也没有那么多的新发现,液压作业将停止——但是,几乎可以肯定的是,无论如何,水力压裂页岩气的作业都会继续,因为我们的文化似乎让我们更倾向于选择化石燃料,而不是更清洁的替代能源。

着手解决这一文化问题,是我们的当务之急。当出现可用的化石燃料时,为什么我们会立即屈服?在我们赖以生存的风、阳光和流水之中,在我们身边,存在着无限的能源,要接受这一点如何如此困难?可能有人认为替代科技不够“男子气概”——当然,这是一个极其荒谬的主张,但是,对制定决策的人来说,却似乎有一股奇怪的力量。又或者说,这涉及到了石油和天然气产业根深蒂固的利益,他们不希望我们向新一代科技前进——即使这是人类在其历史中所做之事。

不管其中的原因是什么,针对页岩气得出的新数据应变成对我们文化的猛然一击,让我们认识到我们需要逐渐远离石油。最终,我们需要明白——发自内心地理解——地球已没有足够的石油和天然气让我们一直维持现有的生活方式。这意味着我们需要改变我们目前专注于消费和舒适的生活方式,而这几乎是不可能发生的,或者,开始真真正正地开发替代能源,而不是在页岩气和其他破坏性计划上浪费时间和资金。这意味着各国需要携手合作,说服人民化石燃料并不特别,这也意味着制定明智的政策。但是,这是可以实现的——实际上,如果其他选择就是储藏在美国少量岩石中的微量页岩,那么,我们就必须完成这个目标。



[ 页岩气, 美国能源独立, 气候变化, 水力压裂法, 天然气之地, Gasland, 开发替代能源, Ana Shell ]

Tuesday, July 1, 2014

Ignoring the past for our own convenience

We spend so much time focusing on the problems of the present day that it can be very easy for us to ignore the past, and to ignore the historical actions and events that have led us to the situation of inequality and injustice that we face today. But as the famous saying goes, ‘those who forget the past are destined to repeat it’, and there are many powerful people out there who would prefer we not explore what our ancestors did in order to maintain the current social structure that favors them.
The crimes of the past are an issue all around the world, but in the ‘old world’ of Europe and Asia things are still a little closer to the surface and more easily visible – think about the ongoing tensions between the Turks and the Armenians stemming from the genocide of 1915, or the various complicated mixings of ethnicities and religions in the Middle East. These problems are ongoing, and will be for some time, but at least we cansee them in order to start addressing them.
In North America, things aren’t as clear. When the pilgrims arrived and built a society in the ‘new world’ they considered it as a clean break from the fighting and ideologies of the regions they had come from. Consequently, the conflict on which American society was founded is much more well-hidden. Take a look, for example, at the many independence monuments that scatter a city like Philadelphia. Philadelphia is extremely important to the American memory as the first capital of the new nation after its break from the UK, but much less known is that it was built on the site of the Lenape Indian village of Shackamaxon.
Read the plaques that adorn the monuments and the explanations in the museums, however, and you will barely ever see this mentioned. Instead, we simply read stories of groups of white men fighting each other, as if the land had been empty when they arrived. To some extent, that is the way it was considered at the time – the term terra nullius was often used by colonizers of Australia to suggest that the land belonged to nobody and was therefore ‘up for grabs’. Those exact words didn’t tend to be used in the colonizing of America, but the concept behind them was surely a part of the European mindset – and it continues to this day, where we very rarely acknowledge the former inhabitants of the continent.
This is despite the huge list of problems that continue to face the remaining native Americans. Their land has disappeared to almost nothing. Indian reservations – that is, land which the US government graciously allows the native Americans to govern for themselves – comprises only 290,000 km2 of the US. The total size of America is around 9.37 million km2, meaning reservations take up only 3% of the entire country, the rest having all been stolen. Alcoholism remains a huge problem, even so long after Europeans introduced the substance, with 12% of all native American deaths estimated to be alcohol-related – four times more than the rest of the population. And unemployment is rampant – the average rate of unemployment on reservations is 14%, double that of the US as a whole.
It’s time for Americans to stop forgetting the past, and to stop repeating it on a daily basis. It must be accepted openly, as part of mainstream culture, that the land they live on was stolen. It is too late to change that now, but by acknowledging it we can take the first true steps towards improving things for those people whose land was taken.

[ alcohol-related deaths, alcoholism, American memory, American society, continent inhabitants, current social structure, European mindset, genocide of 1915, historical actions, ignoring the past, independence monuments, Indian reservations, injustice, Lenape Indian village, mainstream culture, mixings of ethnicities, Native Americans, new nation, new world, old world, pilgrims built society, powerful people, Shackamaxon, situation of inequality, terra nullius, unemployment in America, up for grabs, US government graciously ]

Sunday, June 29, 2014

帮助穷人还是富人?

这次为大家带来了好消息!英国对外援助终于达到了0.7%大关!毫无疑问,正如您将了解到的那样,长期以来,联合国开发计划署都在鼓励富裕的国家拿出本国GDP的0.7%,用作对外援助,帮助较贫困的国家克服不足,改善人民的生活质量。直到最近,还只有斯堪纳维亚国家和为数不多的其他国家成功实现了这个相当小的份额,但现在,英国也成为了其中的一员,可以在国际社会上昂首挺胸了(虽然在英国国内,由于担心惹恼认为不应该向英国以外的任何人提供资金的仇外人士,在其本国并未如此招摇)。


不幸的是,在我们开始为此大肆庆祝之前,还存在一个问题——这实际上是一个相当重要的问题,大部分的援助款都去了哪里。我们愿意想象人们会将其直接用于疫苗接种、修建学校、提供紧急医疗物资等等。但实际上,援助款大部分都会被用于旨在盈利的私人小区和项目(为当地资本家服务,同时,在许多情况下,还为英国企业所用),而非创造各种社会效益。

大部分的援助款都提供给了金融企业,然后,由他们做出对所有人都有好处的投资。这在一定程度上反映出了政府没有能力处理事务,我们只有依靠私营部门寻求最大利益。当然,这种理念完全忽略了私人部门对金钱无法满足的贪念,因此,他们会将大部分援助款投入肯定会产生盈利的项目——私人公寓楼、酒店、购物中心等等。他们所持的观点是,通过投资产生的利润,让部分当地企业富起来,最终这些资金将通过“涓滴效应”惠及大众。他们似乎忘记了这在任何地方都未曾成功过;也从未考虑过只需将资金直接用于穷人所需的观点。

其他存在争议的方案还涉及到了农业。对部分非洲国家来说,要获得农业援助,政府必须接受严格的要求——特别是在任何情况下都不能限制出口。这意味着即使饥荒再次肆虐东非,面向国外市场的食品出口将仍然优先于当地人民的粮食供给。咖啡和巧克力等经济作物也能增加获得援助款的可能性,尽管对当地民众来说,它们几乎毫无用处;同样还有连接港口的运输工具和基础设施,它们让这些作物能快速高效地进入国际市场。这些方案在提供援助款的同时,也通过受益国获得了与援助款相当的收益,但是,许多较为贫穷的国家感觉自己别无选择,只能接受这些要求,以便获得足够的资金来为自己的人民做些事情。

实质上,这些方案证明了我们早就清楚的道理——援助通常是汲取穷国资源,维持全球经济结构性不平等(正是这种不平等让他们处于贫穷的境地)的方式,而不是要真正帮助这些地球上的可怜人。它让政府看来很棒(至少对一些人来说),同时又无需做出真正不受欢迎或会损害本国企业的需要和欲望的事情。因此,在我们制定出旨在帮助穷人而不是企业的更公正的援助新政策之前,终于实现了微不足道的0.7%这一目标,可能也并不是非常值得庆祝的事。


从英文版翻译而来。原文于 6月11,  http://anashell.blogspot.com/2014/06/aid-for-poor-or-for-rich.html

[ 英国对外援助, GDP, 修建学校, 提供紧急医疗物资, Ana Shell, 私人小区和项目 ]

Tuesday, June 24, 2014

Udara Adalah Hak Istimewa Kelompok Tertentu di A.S.

Sebuah penelitian di A.S. baru-baru ini memperlihatkan bahwa warga kulit putih menikmati kualitas udara yang lebih baik daripada warga kulit hitam. Tulisan ini terdengar seperti lelucon, hampir seperti berita utama yang Anda baca di The Union. Namun, sebenarnya hal ini adalah suatu fenomena yang terjadi di wilayah A.S. yang populasi mayoritas kulit putih secara konsisten menikmati kualitas udara yang lebih baik daripada wilayah dengan populasi mayoritas kulit hitam. Mengingat efek yang bisa ditimbulkan oleh kualitas udara pada kehidupan sehari-hari dan harapan hidup kita, penemuan ini memiliki banyak implikasi.



Memang, temuan ini telah dicap rasis dan hal itu memang benar hingga taraf tertentu. Namun, dalam temuan tadi menyangkut sebuah elemen dalam kehidupan kita yang tidak kerap dibahas oleh media oleh media, yaitu kelas dalam masyarakat. Hasil ini dapat ditulis secara berbeda jika penekanannya diubah. Kita dapat berkata bahwa orang-orang miskin biasanya menikmati udara yang lebih buruk dari pada orang-orang kaya, sayangnya lebih banyak orang kulit hitam yang miskin dibandingkan dengan orang kulit putih.

Dari situ kita harus menggali lebih dalam alasan-alasan banyak orang kulit hitam dalam statistik kemiskinan Amerika. Untuk memulainya mungkin kita bisa bertanya mengapa orang-orang miskin dengan warna kulit apapun menikmati kualitas udara yang lebih buruk dibandingkan dengan orang-orang kaya? Alasannya adalah tata ruang, sebuah konsep yang lebih dipahami oleh akademisi di bidang geografi dibandingkan dengan jurnalis surat kabar. Orang-orang kaya Amerika selalu dipisahkan secara spasial dari orang-orang miskin. Jika kita melihat peta banyak kota besar Amerika, kita bisa melihat wilayah tempat tinggal orang-orang kaya dan wilayah tempat tinggal orang-orang miskin. Jika wilayah-wilayah tadi dikunjungi, kita akan melihat dengan jelas perbedaan pada pembangunan lingkungan di sana dan kualitas udaranya.

Wilayah tempat tinggal orang-orang miskin memiliki pajak pendapatan yang lebih rendah sehingga sulit untuk membiayai pelayanan dan fasilitas yang akan membantu mengatasi polusi udara seperti taman kota dan rumah sakit. Tempat-tempat ini berada pada prioritas terbawah dalam pertemuan-pertemuan perencanaan kota dan hal itu berarti, kebanyakan jalan bebas hambatan di A.S. akan melewati kota-kota miskin ini. Karena tingkat pengangguran dan marginalisasi yang tinggi, para warga kota-kota miskin tak punya banyak pilihan selain menerima pekerjaan dari industri yang mencemari lingkungan. dibandingkan dengan mereka yang kaya yang memiliki pilihan dan kuasa untuk menolaknya. Itu sebabnya, kebanyakan pabrik, depot-depot produksi, dan tempat pembuangan sampah di Amerika dapat ditemukan di wilayah-wilayah miskin.

Saat siklus seperti ini dimulai, maka akan sulit untuk menghentikannya. Harga-harga perumahan turun karena kualitas lingkungan yang buruk, dan saat harga-harga naik di wilayah lain kota, maka lebih banyak orang miskin dan pengangguran terpaksa pindah ke wilayah lingkungan yang buruk. Belum lagi kenyataan bahwa kebanyakan dari orang-orang miskin ini berkulit hitam merupakan skandal tambahan. Semuanya ini meperlihatkan bahwa meski mimpi pasar bebas Amerika berhasil dinikmati para pemenang, namun mimpi tadi mengasilkan lebih banyak pihak yang kalah dengan banyak sekali efek negative.

Sepertinya, keadaan harus terus memburuk sebelum timbul perbaikan. Tingkat perbedaan  di  A.S. telah meningkat selama beberapa waktu setelah sebelumnya diatur ulang oleh kemakmuran abad ke-20. Kini A.S. telah didominasi lagi oleh kuasa korporat dan kepentingan orang kaya seperti di abad ke-19. Isu kualitas udara dan pemisahan tata ruang hanyalah salah satu gejalanya. Hal ini hendaknya menjadi peringatan bagi kita untuk segera membuat perubahan jika kita ingin kembali menyamakan hubungan antara pemenang dan yang kalah dalam dunia kapitalis Amerika.



Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 20.05.2014: http://anashell.blogspot.com/2014/05/in-us-class-privilege-is-in-air.html

[ warga kulit putih, lebih baik daripada, orang kulit hitam kemiskinan Amerika, orang-orang miskin, orang-orang kaya Amerika, pembangunan lingkungan, kualitas udaranya, Ana Shell ]

Monday, June 23, 2014

Energy dependency is a problem for us all, not just Ukraine

The news from Ukraine these days just seems to get worse and worse for the country. Military planes are being shot from the sky by rebels, the eastern half of the country is still trying to secede (despite Russia not being quite so vocally supportive anymore), and the Crimean region seems to have been irreversibly lost to Putin at this point. Now, to top it all off, the Russian energy company Gazprom has turned off Ukraine’s gas supply, claiming that the country has not yet paid what it owes. The only vaguely positive spin on this is that at least it didn’t happen in the middle of the winter.
Now of course this decision by Gazprom is political rather than financial. There has just been a new Ukrainian president elected, in an election that Russia essentially considers void because it doesn’t accept the recent revolution that kicked Yanukovych out of the country. And Russia has a desire to keep flexing its newfound muscle on the international stage, showing the world that it is once again a power that should not be messed with. After all, if countries were cut off for not immediately paying their debts, almost nowhere in the world would have any energy right now.
And that’s part of the problem. As we’ve discussed in previous blogs, our global energy system is no longer working well. It’s based around widespread use of fossil fuels that are increasingly scarce and increasingly controlled by only a few countries around the world. If access to those fuels dries up, countries suddenly find themselves in a whole lot of trouble, often unable to provide even basic services to their people.
It is this energy system that is allowing Russia to bully Ukraine right now. It is also this energy system that led to the US decision to invade Iraq, in an attempt to rewrite the oil-rich Middle East region in their own image, and to gain control of enough fuel supplies to keep their unsustainable economy running for a long time. It is this energy system that allows the OPEC cartel to control prices for ordinary consumers around the world. And it is this energy system that causes us to continually dig for more and more fossil fuels in less and less conventional places – under the Arctic, in the tar sands, in Alaska, and so on.
Almost all countries in the world are far too dependent on oil and gas for their energy needs, and this leaves them far too dependent on one or two key suppliers. This fact is starkly illustrated by the fact that the Gazprom shutdown of Ukraine’s energy supply is worrying the EU, who are concerned that even their superpower bloc may not get access to enough fuel for this year unless the flow from Russia gets turned back on promptly. Instead of self-sufficiency and sustainability, which are the goals that all countries should be striving after, we have dependence on dirty fuels.
Many people make a lot of money from this system; the people who suffer the most from it are those who are already poor. They pay high prices at the gas pumps, or to heat their homes in the west. And in the developing world they suffer from the early effects of climate change, killing their crops, flooding their villages, destroying their livelihoods.
What the Ukraine incident shows is the need for greater self-sufficiency in energy sources for all countries, and the need to focus on alternative energy technologies. Rather than being reliant on Russian gas, Ukraine – and the rest of us – should be focusing on cleaner, greener, renewable technologies that are much more easily accessible throughout the world. In designing a new world energy system over the next few decades, these need to be priorities for the international community.
[ basic services, control prices, Crimean region, dependent on oil and gas, destroying livelihoods, developing world, dirty fuels, early effects of climate change, energy dependency, energy right, energy sources, energy system, flooding villages, fossil fuels, fuel supplies, gas pumps, gas supply, Gazprom, global energy system, international community, invade Iraq, key suppliers, killing crops, military planes, new Ukrainian president, oil-rich Middle East region, on international stage, OPEC cartel, ordinary consumers, recent revolution, renewable technologies, Russian energy company, Russian gas, superpower bloc, Ukraine energy needs, Ukraine incident, Ukraine’s energy supply, unsustainable economy, Yanukovych ]

Tuesday, June 17, 2014

终结反恐战争

极端主义教派博科圣地(Boko Haram)在尼日利亚绑架了200名女学生,这在国际媒体上引起了轩澜大波,一部分是由于这一事件的恶劣性质,一部分也是由于绝对不可能实施涉及人数如此之多的绑架,且无人知晓受害人被带往何处的情况。目前,这一事件的焦点集中在了尼日利亚政府的反应上——一个因无力保护本国公民而臭名昭著的政府,一个更关心继续从西方获得石油收入的政府。正是该国政府在面对奥格尼地区爆发的反对石油抗议时,处死了活动的领袖肯·萨罗-维瓦(Ken Saro-Wiwa),这一举动在随后数年内,在该国糟糕的公关方面产生了引人注目且适得其反的效果。


如今,事实证明,他们无力对付伊斯兰组织——博科圣地,该组织名称大意是“西方教育即罪恶”——因此,他们把女学生当成了目标。尼日利亚政府似乎无力阻止盘踞在该国北部沙漠中的恐怖分子,相反,却开始逮捕在首都阿布贾呼吁采取行动的抗议组织领导者——这个倒霉的政权进行的又一次糟糕的公关。

近年来,伊斯兰教武装分子一直肆虐在撒哈拉地区,博科圣地也是组成这股浪潮的一部分。在2012年,于马里北部发起图阿雷格革命的极端组织身上,我们能看到类似的意识形态,该行动随后在法国部队的帮助下被击退。这似乎给我们提供了另一个暗示,即全球“反恐战争”经历着惨败,需要寻求新的途径。结果证明,入侵伊斯兰教为主的国家和无人机轰炸对消灭单个恐怖分子可能非常有效,但是,在阻止形成新的恐怖分子方面却收效甚微——如果说有任何效果,似乎也只是鼓励人们拿起武器,反抗西方和由西方撑腰的非洲政府,因为他们将其视为对教友的压迫。

即使在针对恐怖主义的战争之外,以西方为主导的政策也为尼日利亚等国的恐怖主义提供了进一步的动力。石油产业集中了如此多尼日利亚的资源,从中获益的却只是使用这些石油的西方国家和从上到下窃取利益的腐败政客,对长期受苦的尼日利亚人民来说,余下的只是杯水车薪,为其提供急需的服务。这种情况毫无意外地导致了该国大部分地区——特别是拉各斯和阿布贾等资金相对充足以外的地区——对政府失去信心,或者出现更糟的情况,强烈地鄙视政府。如此发展只会鼓励声称遵守宗教法,“救”人于贫困和灾难中的民粹主义宗教运动,正如博科圣地的行动一样。

与其专注于战争和尝试强迫民众接受民主(如果“强制民主”本身不存在矛盾的话),我们更需要找到阻止此类极端主义传播的新途径。我们需要国际化的发展政策,给予这些国家真正的帮助,让其摆脱贫困,而不是依靠西方提供的石油资金维持生存。同时,我们需要停止对现行体制的容忍,因其利于西方企业的利益,而对本国的人民进行独裁统治,损害人民的利益。我们只能寄希望于这起可怕的绑架事件,将有助于我们的领导人意识到,在只有暴力应对的情况下,极端主义不会消失,进而推动他们采取这些新的政策。


从英文版翻译而来。原文于 5月15, http://anashell.blogspot.com/2014/05/an-end-to-war-on-terror_15.html

[ 终结反恐战争, 极端主义教派博科圣地, Boko Haram, Ken Saro-Wiwa, 斯兰组织, Ana Shell ]