Showing posts with label Ken Saro-Wiwa. Show all posts
Showing posts with label Ken Saro-Wiwa. Show all posts

Tuesday, June 17, 2014

终结反恐战争

极端主义教派博科圣地(Boko Haram)在尼日利亚绑架了200名女学生,这在国际媒体上引起了轩澜大波,一部分是由于这一事件的恶劣性质,一部分也是由于绝对不可能实施涉及人数如此之多的绑架,且无人知晓受害人被带往何处的情况。目前,这一事件的焦点集中在了尼日利亚政府的反应上——一个因无力保护本国公民而臭名昭著的政府,一个更关心继续从西方获得石油收入的政府。正是该国政府在面对奥格尼地区爆发的反对石油抗议时,处死了活动的领袖肯·萨罗-维瓦(Ken Saro-Wiwa),这一举动在随后数年内,在该国糟糕的公关方面产生了引人注目且适得其反的效果。


如今,事实证明,他们无力对付伊斯兰组织——博科圣地,该组织名称大意西方教育即罪恶——因此,他们把女学生当成了目标。尼日利亚政府似乎无力阻止盘踞在该国北部沙漠中的恐怖分子,相反,却开始逮捕在首都阿布贾呼吁采取行动的抗议组织领导者——这个倒霉的政权进行的又一次糟糕的公关。

近年来,伊斯兰教武装分子一直肆虐在撒哈拉地区,博科圣地也是组成这股浪潮的一部分。在2012年,于马里北部发起图阿雷格革命的极端组织身上,我们能看到类似的意识形态,该行动随后在法国部队的帮助下被击退。这似乎给我们提供了另一个暗示,即全球反恐战争经历着惨败,需要寻求新的途径。结果证明,入侵伊斯兰教为主的国家和无人机轰炸对消灭单个恐怖分子可能非常有效,但是,在阻止形成新的恐怖分子方面却收效甚微——如果说有任何效果,似乎也只是鼓励人们拿起武器,反抗西方和由西方撑腰的非洲政府,因为他们将其视为对教友的压迫。

即使在针对恐怖主义的战争之外,以西方为主导的政策也为尼日利亚等国的恐怖主义提供了进一步的动力。石油产业集中了如此多尼日利亚的资源,从中获益的却只是使用这些石油的西方国家和从上到下窃取利益的腐败政客,对长期受苦的尼日利亚人民来说,余下的只是杯水车薪,为其提供急需的服务。这种情况毫无意外地导致了该国大部分地区——特别是拉各斯和阿布贾等资金相对充足以外的地区——对政府失去信心,或者出现更糟的情况,强烈地鄙视政府。如此发展只会鼓励声称遵守宗教法,人于贫困和灾难中的民粹主义宗教运动,正如博科圣地的行动一样。

与其专注于战争和尝试强迫民众接受民主(如强制民主身不存在矛盾的话),我们更需要找到阻止此类极端主义传播的新途径。我们需要国际化的发展政策,给予这些国家真正的帮助,让其摆脱贫困,而不是依靠西方提供的石油资金维持生存。同时,我们需要停止对现行体制的容忍,因其利于西方企业的利益,而对本国的人民进行独裁统治,损害人民的利益。我们只能寄希望于这起可怕的绑架事件,将有助于我们的领导人意识到,在只有暴力应对的情况下,极端主义不会消失,进而推动他们采取这些新的政策。


从英文版翻而来。原文于 515, http://anashell.blogspot.com/2014/05/an-end-to-war-on-terror_15.html

[ 终结反恐战争, 极端主义教派博科圣地, Boko Haram, Ken Saro-Wiwa, 斯兰组织, Ana Shell ]

Sunday, May 25, 2014

Akhir Dari Perang Melawan Teror

Penculikan 200 siswa perempuan di Negeria oleh sekte ekstrimis Boko Haram mulai menjadi perhatian di media internasional karena kengerian ceritanya serta kesuksesan untuk menculik begitu banyak siswa tanpa mengetahui tempat mereka dibawa. Fokus berita kini beralih ke reaksi dari pemerintah Nigeria. Pemerintahan ini terkenal karena tidak mampu menjaga warga negaranya dan lebih mementingkan keuntungan yang diperoleh dari penjualan minyak ke negara-negara barat. Mereka juga terkenal karena mengeksekusi Ken Saro-Wiwa, pemimpin protes anti minyak di wilayah Oganiland. Tindakan ini malah menjadi bumerang dan membuat reputasi masa depan Nigeria menjadi buruk.



Kini, mereka pun terbukti tak kuasa menangani Boko Haram, sebuah kelompok Islam yang namanya kurang lebih berarti ‘pendidikan barat adalah dosa’, sehingga siswi sekolah menjadi target mereka. Pemerintah Nigeria tampaknya tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan kelompok teroris ini yang berdiam di wilayah gurun di bagian utara Nigeria, sebaliknya mereka malah mulai menahan para pemimpin dari kelompok demonstran di Abuja, ibukota Nigeria yang berdemo menuntut untuk bertindak. Lagi-lagi ini menjadi lagi publikasi buruk dari rezim yang tidak bisa diandalkan.

Tampaknya, Boko Haram adalah salah satu bagian dari kelompok Islam bersenjata yang menyapu wilayah sahara belakangan ini. Kita dapat melihat bahwa kelompok ini memiliki ideologi yang sama dengan kelompok ekstrimis yang mengacaukan revolusi Tuareg di Mali utara tahun 2012 sebelum mereka dilumpuhkan dengan bantuan tentara Perancis. Hal ini menyiratkan bahwa ‘perang  global melawan teror’ terus-menerus gagal dan diperlukan sebuah pendekatan baru. Menginvasi negeri muslim serta melakukan pengeboman dengan pesawat tanpa awak memang tampak efektif untuk membunuh masing-masing teroris, namun tidak menghentikan terbentuknya kelompok teroris baru. Hal tersebut justru menganjurkan orang-orang untuk mengangkat senjata melawan barat dan pemerintah Afrika yang didukung barat karena dianggap menindas rekan-rekan mereka.

Terlepas dari peperangan melawan teror itu sendiri, ekstrimis di negara-negara seperti Nigeria sebenarnya dipicu oleh kebijakan-kebijakan negara-negara barat. Kebanyakan dari sumber daya Nigeria terkonsentrasi pada industri minyak yang hanya mendatangkan manfaat pada negara-negara barat serta politikus korup dan menyisakan sedikit untuk pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat Nigeria yang menderita. Tak heran ini telah mendorong sebagian besar wilayah Nigeria – khususnya yang berada di luar wilayah yang maju seperti Lagos dan Abuja – untuk kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah atau bahkan menentangnya. Perkembangan seperti ini justru menganjurkan pergerakan agama populis seperti Boko Haram yang berjanji untuk ‘menyelamatkan’ penganutnya dari kemiskinan dan penderitaan asalkan mau mengikuti sekumpulan hukum-hukum agama.

Daripada memusatkan perhatian kepada peperangan dan upaya untuk memaksakan demokrasi (meskipun ‘memaksakan demokrasi’ itu sendiri adalah oksi moron), kita perlu menemukan cara baru untuk menghentikan ekstrimisme jenis ini. Sebuah kebijakan internasional yang membantu banyak negara  untuk keluar dari kemiskinan perlu dibuat daripada bergantung pada uang yang dihasilkan dari industri minyak barat. Kita juga perlu berhenti menolerasi rezim yang bersahabat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan barat namun bersikap menghancurkan dan menindas warga negara mereka sendiri. Kita hanya bisa berharap bahwa penculikan siswi-siswi ini akan membantu para pemimpin kita untuk mengesahkan kebijakan-kebijakan baru karena mereka menyadari bahwa kelompok ekstrimis tidak akan bisa diberantas jika dihadapi dengan kekerasan semata.

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 15.05.2014: http://anashell.blogspot.com/2014/05/an-end-to-war-on-terror_15.html

[ Penculikan 200 siswa perempuan, penculikan di Negeria, sekte ekstrimis, Boko Haram, Ken Saro-Wiwa, Ana Shell, Pemerintah Nigeria, revolusi Tuareg di Mali ]