Showing posts with label masyarakat modern. Show all posts
Showing posts with label masyarakat modern. Show all posts

Thursday, July 10, 2014

Masyarakat dan Nilai Moral

Akhir-akhir ini kita sering mendengar keluhan dari generasi tua bahwa zaman modern ini tidak bermoral dan kejam. Generasi muda tidak percaya kepada Tuhan dan hidup penuh dosa, sementara generasi sebelumnya memegang teguh moral, memuja Tuhan, dan karena itulah kehidupan mereka tidak ada masalah. Ide untuk kembali ke “masa yang lebih baik dan zaman dahulu” bukannya ide baru, dan sudah sering kita dengar; setelah runtuhnya Uni Soviet, ide ini dikenal sebagai “konservatisme.”


Masyarakat modern mengkhawatirkan nilai-nilai kegagalan dan konsekuensi dari kegagalan tersebut, seperti homoseksualitas, misalnya. Namun, ide ini sama sekali tidak baru. Nilai-nilai kuno berhadapan dengan tren-tren kontemporer yang keji adalah kiasan umum tapi palsu. Gagasan yang menghubungkan antara nilai-nilai lebih tinggi dan nilai moral dengan masyarakat tradisional itu sendiri adalah ide modern yang tidak ada kaitannya dengan norma-norma masyarakat tradisional.

Bahkan pada era Mesir kuno pun orang telah membicarakan tentang degradasi moral; namun, pada zaman itu sekalipun masyarakat tradisional mempunyai system moral yang sangat selektif. Meskipun sudah ada prinsip-prinsip moral yang keras dan hukuman diberlakukan untuk kesalahan kecil, namun tetap ada pengecualian dalam beberapa hal. Misalnya, membunuh itu bukan hal yang tabu ketika terjadi perang dan konflik sipil. Membunuh itu normal, merampok kota yang direbut, memperkosa perempuan, dan membunuh penduduk sipil yang ditaklukkan. Tidak ada prajurit yang pernah merasakan dilema moral karena melakukan hal-hal ini, atau setidaknya tidak ada yang melakukan hal-hal yang kita kenal. Masyarakat dan agama juga tidak menganggap masalah moral dalam hal-hal seperti itu.

Selektivitas moral tersebut juga terjadi dalam urusan seks di luar nikah. Masyarakat tradisional melarang seks di luar perkawinan dan mengutuk aborsi. Masalah seks sama tabunya dengan merampok atau membunuh dalam masyarakat tradisional “yang sopan”. Namun, di luar semua ketabuan dan pembatasan itu, prostitusi sudah ada sepanjang masa dalam kehidupan masyarakat tradisional. Terlepas dari semua perang agama sepanjang sejarah, profesi kuno ini masih ada hingga sekarang. Hanya emansipasi perempuan akhir-akhir ini saja telah berdampak negatif terhadap profesi ini. Hanya modernisasi masyarakat, evolusi alami (atau penurunan nilai moral, seperti klaim generasi yang lebih tua) telah berhasil dalam menurunkan tingkat prostitusi.

Kenyataannya adalah akar dari prostitusi berasal dari masyarakat tradisional, karena perempuan tidak mempunyai hak di luar perkawinan. Seorang perempuan dihubungkan dengan dunia luar melalui suaminya. Di luar perkawinan, seorang perempuan itu dianggap orang buangan; perempuan tidak mempunyai hak-hak sipil atau peluang mempunyai penghasilan sendiri. Mayoritas pekerjaan dilakukan oleh kaum laki-laki, dan tenaga kerja perempuan tidak ada harganya. Naluri liar rasa laparlah yang mendorong perempuan terjun ke dunia prostitusi; semua masalah moral dan khotbah-khotbah agama dikalahkan oleh wajah kelaparan. Contohnya, seorang janda hanya mempunyai dua pilihan untuk bertahan hidup: rumah bordil atau biara, tetapi biara selalu terisi penuh.

Karena banyaknya perempuan malang dan sangat terbatasnya hak-hak mereka, telah menciptakan harga yang sangat murah untuk jasa mereka di rumah bordil. Prostitusi menyebar luas dan karena keuntungan hanya bisa diperoleh dari banyaknya pelanggan yang dilayani, bukan dari harga jasa yang mereka berikan, hampir semua perempuan hanya dapat bertahan tidak lebih dari dua tahun di pasar ini, karena mereka tidak mampu bertahan dengan perputaran yang luar biasa dalam dunia ini. Sudah barang tentu, alcohol dan STD (penyakit seksual menular) adalah efek samping yang tidak dapat dihindari bagi para pelacur dan pelanggan mereka ini.

Selain prostitusi “resmi” dan “mainstream”, masih ada juga praktik-praktik prostitusi tidak resmi. Para pelayan rumah tangga, selain mengerjakan pekerjaan rutin mereka, juga menyediakan jasa tambahan lain. Motif utama bagi mereka tentu saja bukan cinta, kesenangan, atau perasaan lain, tetapi hanya demi tambahan uang atau hadiah semata-mata, karena upah pelayan sangat murah. Seringkali para perempuan pelayan ini memberikan jasa mereka secara cuma-cuma demi menyenangkan hati tuan mereka atau mempertahankan pekerjaan mereka di tengah ketatnya persaingan dalam industri ini.Dengan kata lain, “standar moral yang tinggi” seperti itu mempunyai konsekuensi serius. sifilis dan penyakit menular seksual lainnya ada di antara masalah-masalah serius di Eropa. Tidak ada obat yang manjur untuk melawan penyakit ini, dan bahkan penemuan kondom sekalipun tidak membantu. Hanya rentang kehidupan pendek manusia yang dapat mencegah orang banyak dari manifestasi fisik terkena STD.

Kesenjangan pendapatan antara kelas bawah dan atas memungkinkan pria kaya untuk memiliki banyak wanita sesuka hati. Dan semua ini terjadi dengan latar belakang moralitas tinggi dan iman terhadap Sang Pencipta.


Prostitusi dibangun di atas platform ekonomi dan masyarakat patriakal. Karena motif ekonomilah yang memaksa perempuan untuk turun ke jalan menjajakan diri dan ke rumah bordil. Baru setelah era emansipasi, ketika perempuan mempunyai kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan upah minimum, kesempatan yang sama untuk terhindar dari mati kelarapan, dan sejak itulah jumlah perempuan yang melacurkan diri mulai menurun. Harga jasa pelacuran di rumah bordil naik dan jumlah klien merosot drastis. Industri rumah bordil menurun drastis, dan pada tahun 1950an banyak negara melarang berdirinya rumah bordil, sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebelumnya. Namun, yang lebih menarik adalah revolusi seksual terjadi tepat setelah emansipasi: perempuan menjadi warga masyarakat yang setara, mendapatkan hak-hak mereka, dan tenaga kerja perempuan pun harganya meningkat.

Hubungan seksual antar gender berbeda pun berkembang, dari sekadar sebuah “jasa” sederhana menjadi “hubungan pribadi.” Perubahan besar dalam psikologi sosial ini setara dengan menghapus perbudakan atau status kelas yang lebih rendah.

Ide “seks bebas” membuat gagasan “seks berbayar” terlihat ganjil dan menyimpang. Tempat “istri sebagai partner ekonomi” terlihat sebagai “istri sebagai kekasih”.

Menggunakan jasa prostitusi menjadi sangat tidak populer di masyarakat, dan membayar demi kepuasan seks dipadang sebagai budaya marginal.Revolusi seksual tak bermoral dengan ide seks bebas menggantikan moralitas tradisional dengan rumah bordil dan pelayan seks. Terlihat jelas bahwa revolusi seksual belum mampu menyelesaikan semua permasalahan gender, gagasan ideal dari masyarakat tradisional mulai kembali ke wacana budaya. Kelompok-kelompok antifeminis dan konservatif sosial memberikan ide revolusioner untuk kembali ke masyarakat tradisional demi aspirasi politik, meskipun tidak mungkin untuk benar-benar bisa kembali ke konsep ini, mengingat status ekonomi perempuan dalam masyarakat saat ini.

Generasi baru, yang telah mengalami revolusi seksual, tidak harus menghadapi masalah serius dari masyarakat tradisional yang dialami nenek moyang mereka. Untuk generasi yang lebih muda, masa lalu dilihat melalui pesta dansa yang megah dan agung, kisah cinta yang romantis. Banyak literatur klasik dari masa itu telah salah dimengerti dan salah tafsir oleh khalayak sekarang. Industri perfilman telah memperdalam kesalahpahaman tentang masyarakat tradisional ini. Hampir semua sutradara film sendiri ada “produk sampingan” dari budaya seks bebas yang kemudian terus merusak masyarakat tradisional melalui karya-karya mereka. Itulah sebabnya kita terus mempercayai mitos yang mengatakan bahwa masa lalu selalu lebih baik dari masa kini, dan masyarakat zaman dahulu lebih bermoral dan bermartabat daripada masyakarat modern. Seorang penulis klasik Rusia, Chekhove mengatakan, “Masa lalu sepertinya indah, karena kita tidak lagi berada di sana”.


[ generasi tua, zaman modern, masyarakat modern, psikologi sosial, masyarakat tradisional, degradasi moral, Ana Shell ]

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris: http://anashell.com/anashell/2014/04/18/morals-society/


Thursday, June 5, 2014

Membangun Etika Kerja pada Anak

Apakah orang tua dengan penghasilan 10.000 dolar per bulan perlu membangun kebiasaan bekerja keras pada anak-anak mereka?  Banyak orang tua membangun kebiasaan wajib bekerja dengan cara memaksa anak-anak mereka.  Meski ilmu pedagogi tidak mendukung, kebanyakan orang tua berupaya memaksa anak-anak mereka untuk bekerja  melalui intimidasi secara emosional.  Beberapa orang tua memiliki keyakinan pada cara yang tidak mempunyai dasar ilmu pengetahuan sama sekali tentang nilai evolusi kerja; idenya bahwa dengan bekerja telah membantu kera berubah menjadi manusia, orang-orang prasejarah mengajari anak-anak mereka bekerja sejak dini.
Keyakinan tanpa dasar ilmiah tentang motivasi untuk bekerja menciptakan adalah propaganda ciptaan pemerintah dan keyakinan itu tidak benar.   Motivasi sesungguhnya untuk bekerja (misalnya berburu) tidak berasal dari keinginan untuk terlihat baik di mata kenalan Anda, namun lebih karena naluri bertahan hidup.  Manusia yang lapar akan memburu antelop dan memancing ikan untuk memberi makan diri mereka sendiri dan keluarga mereka.
Keluarga-keluarga zaman purba hidup bersama dalam rumah tangga yang besar.  Orang tua zaman purba tidak pernah berpikir untuk membangun etika kerja dalam diri anak-anak mereka mengingat anak-anak ini lapar setiap hari.  Sejak dini, anak-anak ini melihat sendiri ibu, ayah, dan kakek nenek mereka berupaya keras untuk bertahan hidup.  Hal ini dengan sendirinya mencetak pola kebiasaan dalam diri anak-anak.  Mereka tidak hanya melihat ayah mereka pergi berburu namun juga melihat sang ayah kembali dengan atau tanpa hasil buruan.
Sering kali rumah dan ruang kerja tidak dipisahkan oleh pembatas dan anak bisa langsung berada di bengkel kerja hanya dengan turun ke bawah dari ruang keluarga di lantai atas.  Pekerjaan yang dilakukan dari rumah adalah fondasi bagi keluarga pekerja. Saat bertumbuh dewasa, sang anak mulai membantu keluarga dengan sendirinya.  Seorang wanita yang menikah dan tinggal dengan keluarga suaminya akan melakukan tugas-tugas yang sama yang biasa dilakukannya di rumahnya sendiri dengan ibunya. Proses mengembangkan kebiasaan bekerja dalam diri anak-anak selalu berkaitan dengan kesulitan sehari-hari dalam kehidupan keluarga.
Dalam masyarakat modern, motivasi untuk makan telah ditinggalkan dan digantikan dengan kebutuhan masyarakat, serta pekerjaan keluarga pun telah menghilang. Kapitalisme dan pemerintah telah mengambil anak-anak yang cerdas dari keluarga mereka untuk mengisi jabatan-jabatan penting pada perusahaan dan anak-anak yang biasa-biasa sajadiberikan pekerjaan yang tidak terlalu penting.  Itulah sebabnya anak-anak modern tidak dapat mengamati pengalaman orang tua mereka dan anggota keluarga yang lain.
Pagi hari, anak-anak dan orang tua bergegas menuju tempat kerja mereka dan hanya memiliki kesempatan untuk bertemu sebagai keluarga saat makan malam. Anak-anak bergantung pada media dan model perilaku yang diciptakan oleh perusahaan sebagai pedoman hidup.  Itulah sebabnya media massa memainkan peranan yang amat penting dalam membodohi massa dan menciptakan motivasi perilaku bagi anak-anak modern.  Perusahaan telah mengambil waktu dan ruang vital dalam keluarga modern. Dalam setahun, sebuah keluarga modern hanya memiliki sepuluh hari untuk dihabiskan bersama, dan waktu ini dihabiskan untuk berwisata daripada untuk usaha keluarga.
Mari kita menengok pada keluarga tradisional Cina dan rumah/ruang kerja mereka sebagai contoh paling bagus untuk menghubungkan antara pekerjaan keluarga dan bisnis.  Sebuah keluarga besar yang terdiri dari sepuluh anggota keluarga atau lebih tinggal di rumah toko bertingkat dua hingga tiga yang sempit. Toko atau ruang kerja biasanya berada di lantai dasar.  Banyaknya kompetisi di dalam keluarga memaksa anak-anak untuk bekerja lebih dari delapan jam per hari.  Namun, pekerjaan yang dilakukan bukanlah untuk seorang majikan, melainkan bagian dari kehidupan tradisional keluarga yang termasuk bekerja, dan pekerjaan tidak dilihat begitu saja.   Kebebasan kehidupan keluarga inti mencegah majikan (pemberi kerja) mendapatkan penghasilan tambahan dari masing-masing anggota keluarga, dan akibatnya keluarga seperti ini diserang.
Keluarga tradisional seperti ini kerap diperbudak oleh negara, yang ingin menerima pemasukan dari setiap keluarga untuk kas negara atau menjalankan keinginan pemberi kerja global.  Negara menindas keluarga-keluarga semacam ini dalam banyak hal, termasuk menaikkan sewa rumah sehingga negara dapat terus mempertahankan monopoli dalam jenis bisnis tertentu.  Keluarga pekerja seperti ini sesungguhnya mampu menghidupi diri sendiri atau melakukan barter dengan biaya sepuluh kali lipat lebih murah (dari usaha kantin milik keluarga) dibandingkan dengan yang pemerintah dapat sediakan.
Kini di Singapura, rumah yang dijadikan tempat usaha hampir tidak ada lagi.  Rumah yang dijadikan tempat usaha (ruko) masih tersebar di RRT, Vietnam, dan banyak negara lain. Jika Anda menanyakan keluarga-keluarga di sana tentang caranya membangun kebiasaan bekerja pada anak-anak mereka, reaksi yang Anda dapatkan adalah tatapan keheranan, karena anak-anak mereka hidup dalam keadaan bahagia dan bukan sebagai tenaga kerja paksa.
Kita sering melihat anak-anak dari keluraga dengan penghasilan di atas 10.000 dolar per bulan menjadi parasit sosial.  Hal ini terjadi karena pembagian tenaga kerja modern memungkinkan untuk mempekerjakan pembantu rumah tangga lebih dari satu, yang pekerjaannya membebaskan anak-anak dari beban kebutuhan. Dalam keluarga seperti ini rasa lapar tidak lagi menjadi kekhawatiran. Kebutuhan yang tersisa adalah kebutuhan akan hiburan yang dipuaskan lewat melancong, mobil, pakaian, dsb. Dari sudut pandang sosial yang lebih luas, orang seperti ini adalah parasit yang sulit menemukan tempat mereka dalam masyarakat.  Sering kali, anak-anak seperti ini tidak dapat menemukan pekerjaan yang pantasuntuk diri sendiri sehingga orang tua mereka harus ikut campur agar mereka mendapat pekerjaan.
Kesimpulannya, anak-anak tidak dapat diajar etika kerja tanpa ada rasa membutuhkan.  Orang tua harus menciptakan kebutuhan seperti ini dalam diri anak-anak mereka meski keluarga mereka memiliki kekayaan yang menjamin masa depan.  Hal ini dapat dicapai orang tua dengan melibatkan anak-anak mereka dalam usaha keluarga.

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 9.05.2014: http://anashell.com/anashell/2014/05/09/developing-work-ethic-children/'
[ kebiasaan bekerja keras, intimidasi secara emosional, dasar ilmiah, propaganda ciptaan pemerintah, kehidupan keluarga, masyarakat modern, Ana Shell, Membangun Etika Kerja pada Anak ]